Selasa, 06 Juli 2010

Tujuan dan Strategi GET Ahead: Mengapa, Apa, Siapa, dan Bagaimana

Sejumlah besar perempuan terlibat dalam kegiatan usaha kecil guna menghasilkan pendapatan dan usaha kecil. Banyak dari mereka tidak memiliki alternatif mata pencaharian dan turut serta dalam usaha mempertahankan hidup keluarga. Mereka berada di tengah lingkungan kerja yang buruk dan hanya punya sedikit peluang untuk dapat keluar dari kemiskinan.
Di dunia, banyak agen pembangunan yang mempromosikan aktivitas ekonomi, terutama di antara kelompok yang kurang beruntung melalui proyek peningkatan penghasilan, pengentasan kemiskinan, dan pemberdayaan perempuan. Namun, kebanyakan program tersebut tidak menanggapi secara sistematis permasalahan dan kebutuhan para perempuan yang dinamis sekaligus rentan ini.
Pelatihan usaha dan layanan pengembangan usaha bagi para perempuan dalam kemiskinan haruslah mampu menanggapi tantangan-tantangan berikut ini:
  • Perubahan dari orientasi kesejahteraan ke orientasi usaha. Banyak organisasi pemberdayaan masyarakat lokal yang bertujuan sosial cenderung melakukan proyek usaha skala kecil untuk perempuan dengan pendekatan kesejahteraan. Oleh karena itu, mereka seringkali gagal menyediakan keterampilan usaha praktis, pengetahuan, dan ‘pikiran usaha’ yang penting untuk usaha yang sukses bagi kelompok sasaran perempuan. Promosi kesetaraan gender:
  • Pelatihan usaha konvensional tidak membahas hambatan spesifi k gender perempuan berpenghasilan rendah yang terjun ke dunia usaha. Ini terjadi karena pelatihan tersebut hanya menyorotikesenjangan pengetahuan dalam membangun, mengelola, dan mengembangkan sebuah usaha. Hal ini kurang menguntungkan para perempuan karena layanan seperti itu cenderung dikembangkan dengan ‘perspektif laki-laki’ yang memperkuat citra stereotip laki-laki dan perempuan dalam usaha.
  • Perempuan di banyak negara memiliki sumber daya lebih sedikit dibandingkan laki-laki dalam hal pendidikan, waktu, dan uang yang dihabiskan untuk pelatihan. Tidak jarang mereka juga menghadapi hambatan mobilitas. Walhasil, perempuan berpenghasilan rendah mendapatkan keuntungan yang lebih sedikit dibanding laki-laki dari layanan pengembangan usaha umum yang ada.
  • Pengecualian memang terjadi pada jasa penyediaan keuangan mikro. Pada sektor ini perempuan telah dipilih selama bertahun-tahun terakhir karena mereka pada umumnya pekerja keras dan dapat dipercaya, dan telah terbukti menepati kewajiban untuk membayar kembali. Namun, dalam kasus-kasus seperti itu, pemberdayaan perempuan tidak selalu terjadi karena akses terhadap kredit tidaklah berarti kontrol atas penghasilan dalam rumah tangga.
  • Terlebih lagi, berbagai program yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan praktek dan strategis perempuan kadangkala justru menciptakan penolakan dari rekan pria dan pemimpin-pemimpin lokal. Kecenderungan seperti itu adalah kontraproduktif. Pendekatan yang dilakukan haruslah dibalik dengan spesifi k gender, yakni dengan melibatkan laki-laki dan perempuan yang memungkinkan kedua pihak bersama-sama mewujudkan kebutuhan gender strategis mereka. Untungnya, hal ini mulai terjadi. Contohnya, kesadaran akan peranan perempuan sebagai klien dan penyedia jasa semakin meningkat dalam upaya memasyaratkan ‘layanan pengembangan usaha’ (business development service – BDS).
  • Dari fokus pada angka menuju prioritas untuk membangun sebuah ‘pikiran usaha’. Transfer pengetahuan dalam pengembangan usaha seringkali diarahkan pada peningkatan keterampilan akuntansi usaha. Tentu saja ini berlaku bagi mereka yang sudah dapat membaca, menulis, serta mampu memahami dan menggunakan angka-angka. Akibatnya, perempuan yang buta huruf cenderung menjadi malu karena persyaratan masuk mereka tidak mencukupi. Namun, mereka memiliki kekayaan keterampilan hidup dan pengalaman.

0 komentar:

Poskan Komentar