Sabtu, 31 Juli 2010

Pernah Kelam Berkat Alam

Masyarakat kini lebih memilih barang-barang berbahan dasar alam untuk perabot, pernik-pernik, aksesori hingga hiasan. Ini tak lepas dari kandungannya yang relatif lebih aman, selain terlihat unik dan artistik.

“Kami memang suka berburu barang-barang berbahan alami. Mulai barang-barang furnitur hingga hiasan rumah. Unik aja, apalagi kalau barang itu hanya diproduksi terbatas atau tak ada yang menyamai,” papar Indra Setya, salah seorang konsumen di Surabaya, Jumat (14/5).

Supervisor salah satu diler mobil ini mengaku, tak pilih-pilih bahan alam apa yang ia sukai, asal cocok dan terlihat unik, ia pasti berusaha mendapatkannya. Beberapa lokasi di Surabaya menjadi langganan buruannya. Bahkan, tak jarang ia berburu ke sejumlah kota, seperti Jogjakarta, Bali, Jakarta, dan kota lainnya.

“Berbeda rasanya ketika kita memasuki sebuah rumah atau ruang dengan banyak perabot berbahan alam, dengan ruang yang minim bahan alam. Lemari misalnya, beda banget ketika melihat lemari berbahan kayu jati atau rotan, dengan yang berbahan plastik atau kaca,” ulas pria asal Malang ini.
Meski demikian, bukan berarti Indra rela merogoh kocek dalam-dalam. Ia memiliki batasan nilai nominal tersendiri, ketika harus memilih sebuah barang yang ia sukai.

Seiring tren ‘back to nature’, pasar ini terus meningkat. Tentu saja hal ini menarik minat pelaku usaha yang menggunakan bahan dasar alam untuk pembuatan produknya.

Seperti dilakukan Yudi Oentoro. Berkat usahanya yang ia namakan Cococraft Kreasi Gemilang, produknya berupa handicraft, furnitur, serta material dekorasi, punya nilai tersendiri bagi konsumen. Ini karena bahan yang ia pilih cukup unik, seperti batok kelapa, kerang, kulit kayu manis, bambu dan lainnya

Semula Yudi tak lebih dari pemasok tempurung kelapa. Namun, ketika para agen yang dipasoknya kesulitan keuangan akibat krisis moneter pada 1997, Yudi berpikir untuk mengolah menjadi produk kerajinan tangan. Berkat ide-ide kreatifnya, hasil karyanya mulai dikenal.

“Untuk membuat produk kreatif dan diterima pasar memang tidak mudah. Ada tuntutan kreativitas yang life time-nya pendek. Kami sendiri, minimal setiap tahun harus ada desain baru,” papar Yudi.

Ia berupaya memberi warna berbeda, misalnya mengombinasikan antara bahan kayu dengan tempurung kelapa. Yang menarik, tempurung kelapa yang ia pakai sengaja dipilih yang muda atau tua sekali. Pasalnya, warna keduanya sangat berbeda. Tempurung kelapa muda cenderung berwarna putih, sedang yang tua berwarna kehitaman.

“Kombinasi itu yang cukup unik,” ulas pemenang Primaniyarta 2009 untuk kategori produk kreatif pada Trade Expo Indonesia (TEI) ini. Beberapa produknya yang banyak diminati di antaranya, piring-piringan, furnitur, lampu hias, dinding atau atap dekorasi.

Kini, tidak hanya pasar domestik, sejumlah negara banyak yang melirik produknya. Dibantu sekitar 60 pekerja sub kontrak, rata-rata dalam dua bulan Yudi mampu memproduksi hingga 1 kontainer. Harga yang dipatok beragam, mulai Rp 50.000 per piece hingga puluhan juta rupiah.

Tergantung Musim
Lain lagi dengan Sunardi, perajin rotan. Permintaan pasar terhadap produk kerajinan rotan tak tentu musim. Cuma musim tertentu ramai permintaan, seperti jelang Lebaran, Natal dan tahun baru.
“Itu khusus produk basket (keranjang). Permintaannya cukup besar. Tapi kalau untuk kerajinan lain seperti furnitur dan aksesori interior tak mengenal musim, cuma permintaannya terbatas,” jelas pria 37 tahun ini.

Menyiasati agar produknya cepat laku, Nardi bergabung dengan perusahaan ekspor furnitur. Saat ini bapak satu anak ini menjadi suplier di beberapa perusahaan eksportir furnitur.
“Usaha saya ini merupakan usaha turun karena orangtua saya juga perajin rotan, saya belajar menganyam dari ayah. Tapi sejak 12 tahun terakhir, saya yang meneruskan dan mulai aktif menjadi suplier,” kisah Sunardi.

Produk kerajinan rotan saat ini sudah banyak yang di-mix dengan kayu, bamboo, enceng gondok, hingga debog pisang. Bahkan, ada yang membuat variasi dengan rotan sintetis. Alasannya, selain mengikuti selera pasar dan tren yang berkembang, bahan baku rotan mentah juga mulai langka.

“Kalau sebelum 10 tahun lalu kran ekspor bahan baku tidak diperbolehkan. Rotan mentah masih gampang didapat. Tapi, 10 tahun terakhir ini rotan mentah makin banyak yang diekspor akibatnya perajin industri rotan kekurangan bahan baku,” kata pria yang buka usaha di Menganti, Gresik ini.

Jika order perusahaan sepi, Sunardi mengerjakan proyek sendiri. Sebaliknya, jika permintaan ekspor ramai, maka Sunardi menghentikan sementara pembuatan produk kerajinan yang ia jual sendiri.
“Untuk satu unit kursi rotan-kayu bisa dijual Rp 100.000 pada perusahaan eskportir. Kalau satu set bisa mencapai Rp 1 juta-an tergantung motif dan desainnya. Kalau pasar lokal lebih banyak ke Ngagel Jaya dan Bali,” ujarnya.

Itupun produknya lebih banyak interior ruangan seperti, vas bunga, rak, partisi ruangan, keranjang buah. “Bikin furnitur untuk pasar lokal rasanya sulit. Upah tenaganya nggak sumbut. Permintaannya juga naik turun,” katanya.

0 komentar:

Poskan Komentar