Kamis, 15 Juli 2010

PERGESERAN PERAN KELUARGA PADA PEREMPUAN MIGRAN SIRKULER DI KOTA SEMARANG (STUDI TENTANG PEKERJA PEREMPUAN DALAMMENGEMBANGKAN USAHA MANDIRI) Oleh: Wah

B. Perumusan Masalah
1. Faktor - faktor apa sajakah yang mempengaruhi pekerja perempuan dalam me ngembang kan usaha mandiri ?
2. Motivasi apa sajakah yang mendorong pekerja perempuan dalam mengembangkan usaha
mandiri ?
3. Bagaimanakah peran keluarga yang dilakukan oleh pekerja perempuan dalam mengembangkan
usaha mandiri ?
C. Tinjauan Pustaka
Dewasa ini keterlibatan perempuan dalam lapangan kerja yang bemilai ekonomis semakin meningkat jumlahnya. Hal ini dapat diketahui dari meningkatnya keterlibatan perempuan tersebut dari tingkatpartisipasi perempuan dalam kerja dan jumlah bidangpekerjaan yang dapat dimasukinya. Jika dilihat dari bidang pekerjaan yang dimasukinya semakin beragam. Kalau beberapa saat yang lalu pekerjaan tertentu masih didominasi oleh kaum laki-laki, tetapi sekarang sudah tidak demikian lagi. Justru terdapat bidang pekerjaan yang didominasi oleh perempuan. Sebenarnya perempuan memberi kontribusi lebih 70% dalam usaha ekonomi mikro, namun keberadaannya dan peranannya dalam menggerakkan ekonomi mikro sering tidak diakui, bahkan perencanaan program bantuan masih belum dipikirkan bagaimana perempuan bisa mendapatkan informasi dan akses pada sumber pendanaan formal.
Dengan banyaknya perempuan yang bekerja menunjukkan adanya pergeseran dalam diri perempuan terhadap sistem nilai dan normatif serta adanya perubahan peranan kelembagaan. Kesempatan perempuan untuk bekerja di luar rumah sangat dipengaruhi oleh adanya kesadaran baru perempuan atau karena pergeseran sistem nilai yang memungkinkan perempuan ke luar rumah. Pandangan kultural tentang perempuan selalu diidentikkan dengan kegiatan yang tidak bernilai ekonomis meski mereka bekerja. Kerja menurut sebagian besar pandangan masyarakat (kaum laki-laki) adalah suatu tugas / kegiatan yang memang semestinya dilakukan oleh perempuan sama halnya ketika mereka menilai perempuan sebagai isteri atau sebagai ibu rumah tangga. Dalam hal ini perempuan menempati posisi yang marginal dalam lapangan pekerjaan.
Konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dalam struktur subordinat dalam berbagai kegiatan ekonomi, telah menjadi penghalang utama bagi perempuan untuk memperoleh kesempatan yang lebih baik. Terbatasnya akses ke sumberdaya serta lemahnya kemampuan mencari penghasilan telah menghambat perempuan dalam mempengaruhi alokasi sumberdaya dan keputusan investasi di dalam rumah tangga (Pembangunan Berperspektif Gender, 2005 : 5).
Dengan bergesernya waktu perempuan mulai bangkit untuk bisa melakukan sesuatu pekerjaan sesuai dengan potensi yang dimiliki. Karena sebagian besar penduduk perempuan berpendidikan rendah, maka pekerjaan yang bisa dilakukan juga pekerjaan yang tidak banyak menuntut ketrampilan. Seperti halnya yang terjadi pada saat ini dengan bertambahnya penduduk persaingan terutama dibidang ekonomi juga semakin tajam. Perempuan tidak bisa diam apabila hendak mempertahankan kesejahteraan keluarganya. Dengan persaingan yang ketat di lingkungan daerahnya, banyak perempuan yang mengadu nasib ke luar daerahnya ke suatu daerah tujuan tertentu baik dengan pertimbangan yang matang maupun coba-coba. Hal ini dilakukan karena rendahnya pendapatan dan harus tetap bertanggungjawab dalam pengaturan keuangan agar kebutuhan dasar keluarga terpenuhi.
Melalui pengamatan dapat diketahui bahwa orang yang melakukan mobilitas mempunyai motivasi ekonomi yang hampir sama, tetapi didorong oleh suatu sikap budaya dan kondisi yang berbeda-beda. Kemudian kaitannya dengan mobilitas sirkuler dapat dikatakan bahwa beberapa faktor yang dianggap sebagai kekuatan penyebab terjadinya sirkulasi adalah unsur-unsur sosio kultural misalnya merantau, pada masyarakat Minangkabau dan masyarakat Jawa Tengah dikenal dengan istilah "Beboro" atau Boro. Selanjutnya tekanan ekonomi dalam kehidupan desa meningkatkan mobilitas, sebagian besar berdasarkan harapan memperoleh pekerjaan di kota -kota besar.
Menurut Mantra (1985), sirkulasi adalah semua perpindahan melintasi batas dukuh untuk selama lebih dari satu hari, tetapi kurang dari satu tahun. Sedangkan menurut Hugo (1975), mobilitas sirkuler adalah apabila seseorang tidak hadir di desa selama periode kurang dari enam bulan, ia dimasukkan kedalam golongan migran sirkuler. Mobilitas sirkuler bukan suatu tipe gerak penduduk yang baru di Indonesia, tetapi merupakan gejala dari struktur dan proses masyarakat Indonesia yang dinamis. Perkembangan ini bermula dari makin baiknya sarana transportasi umum, dan makin bertambahnya tekanan sumber penghasilan bidang pertanian, berkurangnya permintaan tenaga kerja musiman dalam pertanian. Hal ini mendorong mereka melakukan mobilitas sirkuler. Mayoritas di kota memperoleh pekerjaan dalam kegiatan usaha kecil - kecilan, atau yang dikenal sebagai sektor informal.
Berpindahnya perempuan ke daerah tujuan bukan tanpa sebab, diantaranya :
a) keterbatasan ketrampilan, dalam hal ini perempuan akan tersingkir di derahnya, tidak mampu mengembangkan potensi;
b) keterbatasan modal pendidikan, perempuan tidak mampu bersaing dan kesulitan meningkatkan skill ;
c) keterbatasan modal, perempuan hanya bisa berusaha dalam jenis pekerjaan yang tidak memerlukan modal besar. (Suara Wanita, 1997 : 24)
Selain sebab-sebab tersebut faktor pendorong yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi (mobilitas sirkuler) adalah : (Lembaga Demografi FE UI, 1981 : 119-120)
1. Makin berkurangnya sumber-sumber alam, menurunnya permintaan atas barang-barang
tertentu yang bahan bakunya makin susah diperoleh seperti hasil tambang, kayu atau
bahan dari pertanian.
2. Menyempitnya lapangan pekerjaan ditempatasal akibat masuknya teknologi yang menggunakan mesin-mesin.
3. Adanya tekanan - tekanan atau diskriminasi politik, agama, suku, di daerah asal.
4. Tidak cocok lagi dengan adat/ budaya/kepercayaan di tempat asal.
5. Alasan pekerjaan atau perkawinan yangmenyebabkan tidak bisa mengembangkankarir pribadi
6. Bencana alam baik banjir, kebakaran, gempa bumi, musim kemarau panjang atau adanyawabah penyakit.
Diantara sebab dan faktor pendorong tersebut, maka dalam diri seseorang yaitu perempuan mempunyai motivasi untuk mengembangkan potensi atau usaha di daerah tujuan yang kebanyakan berada disektor informal sesuai dengan pendidikan, ketrampilan dan tersedianya modal. Motivasi adalah semua penggerak, alasan, atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan ia berbuat sesuatu (W.A. Gerungan, 2004 :151). Bagi perempuan boro bisa dilihat dari apa yang dilakukannya, bagaimana ia melakukannya dan mengapa ia melakukannya. Pada awalnya didasari oleh adanya motif tunggal yang hanya berpikiran untuk pemenuhan ekonomi saja, tetapi lamakelamaan mempunyai motif bergabung yang memiliki tujuan yang banyak. Diantaranya perlunya bersosialisasi dengan orang-orang yang berada di daerah tujuan, perlunya penyesuaian dengan kehidupan kota tujuan.
Motivasi perempuan untuk berpindah tempat tinggal sementara (mobilitas sirkuler) yaitu adanya :
1. Motif ekonomi : dorongan ini sangat kuat sekali yang disebabkan pendapatan suami
rendah, suami tidak berpenghasilan karena kehilangan pekerjaan, harus menghidupi
keluarga, ingin meningkatkan kesejahteraan.
2. Motif sosial : perempuan ingin bergaul dan mendapatkan pengakuan bahwa sebenarnya dapat berupaya untuk mencari nafkah danmempunyai status di masyarakat. Adanya rasasuperior di tempat yang baru atau memasukilapangan kerja yang sesuai.
3. Motif budaya : Keinginan untuk hidup dan beraktifitas di kota besar, yang mempunyai
daya tarik tersendiri bagi orang dari kota kecil. Di kota bisa mendapatkan segalanya dan
memperoleh kebebasan untuk menikmati fasilitas-fasilitas atau produk budaya yang
ada.
Dengan adanya berbagai motivasi tersebut, seseorang akan mngalami perubahan. Perubahan baik yang bersifat material maupun nonmaterial, dapat positip atau negatip, tergantung pada pengaruh luar yang diterima dan diolah oleh seseorang (R.Bintarto, 1984 : 71). Bagi perempuan boro dengan keberadaannya di luar daerah atau kota tujuan tentunya akan mengalami berbagai macam masalah. Yang penting untuk dikaji adalah bagaimana interaksi dengan keluarga yang ditinggal di daerah asal baik terhadap suami maupun anak-anak. Siapakah yang akan merawat dan mengasuh sepenuhnya bagi anak-anak mereka ?. Dalam hal ini akan terjadi pola pergeseran terhadap pengasuhan anak ataupun peran keluarga. Yang semula merupakan tanggung jawab penuh bagi orang tua, karena suatu sebab salah satu orangtuaharus meninggalkan keluarga, dan dengan demikian berhenti melaksanakan kewajiban perannya (William J.Goode, 1983:185).
Dalam teori gender atau feminist, melihat bagaimana alokasi pekerjaan - pekerjaan domestik bagi tenaga kerja perempuan. Alokasi pekerjaan domistik seperti mengasuh anak, dan mengurus rumah tangga kepada perempuan, merupakan tugas utama ibu rumah tangga. Di masyarakat negara - negara berkembang tugas tersebut pada umumnya dilakukan bersama -sama dengan perempuan lain dalam konteks keluarga sedarah (extended family). Dengan bergesernya extended family menuju keluarga batih (nuclear family), dalam proses modernisasi tanggungjawab mengasuh anak dan mengurus rumah tangga justru semakin ke tangan ibu rumah tangga. Sehingga ideologi gender pada saat yang bersamaan hanya mengakomodasi pekerjaan baru sektor publik yang merupakan kepanjangan dari pekerjaan perempuan di sektor domestik seperti juru rawat, bidan, guru, sekretaris, dan sejenisnya (Sukesi,1991).
Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam masyarakat. Melalui keluarga yang harmonis akan tercermin suatu generasi penerus bangsa yang tangguh. Mengingat dalam keluarga hubungan antara anggota keluarga dijiwai oleh suasana kasih sayang dan rasa tanggungjawab serta fungsi keluarga ialah merawat, memelihara dan melindungi anak dalam rangka sosialisasinya agar mereka mampu mengendalikan diri dan berjiwa sosial (Khairuddin H, 1985 : 9). Rumah tangga memainkan peran mendasar dalam membentuk relasi gender dari awal kehidupan dan menurunkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang membuat banyak keputusan paling mendasar di dalam rumah tangganya tentang memiliki dan membesarkan anak-anak, tentang bekerja dan bersenang-senang ataupun tentang investasi untuk masa depan (Pembangunan Berperspektif Gender, 2005 :14)
Pada masa kini perubahan yang paling mencolok di dalam keluarga adalah dalam hal jumlah perempuan bekerja, karena peningkatan ekonomis akan memberi dampak terhadap peran dari anggota keluarga. Keluarga dihadapkan dengan berbagai tantangan dan masalah yang menyebabkan fungsi keluarga kurang terlaksana secara optimal (Media Perempuan, 2003 : 31). Seperti halnya perempuan boro yang sebenarnya tidak menghendaki terpisahnya dengan anggota keluarga terpaksa untuk melakukan hal tersebut, dikarenakan tuntutan hidup. Dengan demikian walaupun mereka tidak meninggalkan dalam kurun waktu yang sangat lama, tetapi ada waktu atau saat yang hilang bersama keutuhan keluarga dan ini merupakan nilai yang tidak terhingga dan sulit untuk menggantinya. Karena hampir tidak ada peran tanggungjawab keluarga yang dapat diwakilkan kepada orang lain seperti halnya tugas khusus dalam pekerjaan dapat diwakilkan kepada orang lain (William J.Goode, 1983 : 8). Sangat diperlukan kedekatan antara semua anggota keluarga karena orang tua berkewajiban dan bertanggungjawab untuk : 1). Mengasuh, memelihara, mendidik dan melindungi anak ; 2). Menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya ; 3). Mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak (Perlindungan Anak, 2003 : 12).
Pendidikan yang diterima anak dalam keluarga terutama dari ibunya merupakan fondasi bagi perkembangan anak tersebut selanjutnya sehingga dapat berkembang menjadi manusia yang berkepribadian utuh. Kegagalan dalam meletakkan fondasi yang diperlukan bagi perkembangan anak dimasa-masa selanjutnya akan menyebabkan upaya untuk menjadikan sumber daya manusia yang memiliki kepribadian utuh sulit untuk diwujudkan (Sofi Sufiarti A, 2001 :17).
Disatu sisi harus mengakui keberadaan perempuan boro dengan segala kekuatannya berusaha untuk bisa berdiri diatas kaki sendiri tanpa bantuan dari pihak lain dan disisi lain harus merasakan hilangnya kebersamaan dengan keluarga yang ditinggal di daerah asalnya.


D. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengtahui faktor - faktor yang mempengaruhi pekerja perempuan dalam mengem bangkan usaha mandiri.
2. Untuk mengetahui motivasi pekerja perempuan dalam mengembangkan usaha mandiri
3. Untuk mengetahui pergeseran peran keluarga bagi pekerja perempuan dalam mengembangkan usaha mandiri
E. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan tipe deskriptif yaitu menggambarkan secara rinci dan mendalam tentang faktor - faktor yang mempengaruhi perempuan untuk menjadi perempuan boro, motivasi yang mendorong perempuan boro, hambatan - hamjbatan yang dialajnjjierempuan boro, peran yang dilakukan perempuan boro terhadap keluarga.


Variable penelitian
1. Faktor yang mempengaruhi
2. Motivasi
3. Pergeseran peran keluarga
Konsep dan Indikator
1. Faktor yang mempengaruhi adalah suatu kondisi yang dapat menyebabkan seseorang
dapat memperoleh keuntungan ataupun kerugian dalam mengembangkan usaha
mandiri. § Faktor pendorong § Faktor penarik § Faktor penghambat
2. Motivasi a adalah semua penggerak, alasan atau
dorongan yang dilakukan oleh seseorang untuk menumbuhkan kreativitas yang positif
untuk dapat mengembangkan diri secara mandiri. § Motiv § Harapan
3. Pergeseran peran keluarga adalah perubahan yang terjadi dalam upaya siapa yang mengasuh, melindungi dan mendidik anak dalam keluarga. § Mengasuh anak § Melindungi anak § Mendidik anak
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perempuan boro yang berada di Kota Semarang yang memiliki surat keterangan pindah sementara (boro) untuk tinggal di daerah tujuan yang meninggalkan anggota keluarga di daerah asal serta mempunyai anak yang masih sekolah dan mempunyai usaha mandiri (berjualan). Sedangkan sampel diambil secara purposive sesuai dengan karakteristik yang telah ditetapkan sejumlah 50 orang
Tehnik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara dengan berpedoman pada daftar pertanyaan terstruktur yang bersifat terbuka dan tertutup.
Tehnik Pengolahan Data
Tehnik pengolahan data melalui editing, coding,tabulating.
Tehnik Analisa Data
Penelitian ini menggunakan analisa kualitatif yaitu :
§ Melakukan interpretasi data yang diperoleh dari wawancara yang telah diolah dan dipresentasekan.
§ Mendiskripsikan masing-masing indikator.§ Membuat kesimpulan secara menyeluruh dalam bentuk deskriptif dengan bantuan tabel angka frekuensi dan persentase untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini.



F. Hasil Penelitian
A. Gambaran umum responden
Dalam penelitian ini yang menjadi responden adalah perempuan migran sirkuler (boro) yang menekuni usaha mandiri (berjualan ) di Kota Semarang sebanyak 50 orang. Mereka sebagian besar berumur antara 36 - 46 tahun sebanyak 25 responden (50%); tingkat pendidikan yang pernah ditempuh oleh 23 responden (46%) adalah SD; dari 22 responden (44%) yang ditemui jumlah anakyang menjadi tanggungan sebanyak 2 orang; daerah asal mereka sebagian besar yaitu 18 % berasal dari Kota Klaten, 18% berasal dari Kota Solo dan 8% dari Kabupaten Purwodadi, sedangkan responden lainnya berasal dari kota / kabupaten yang berada di Jawa Tengah, Jawa Timur dan JawaBarat; jenis komoditi yang dijual sebanyak 22 responden (44%) adalah makanan dan minuman ; 36 responden (72%) dari awal hingga saat ini tidakpemah berganti jenis usaha ; lama melakukan usaha sebanyak 22 responden (44%) adalah 3-10 tahun ; dan sebanyak 26 responden (52%) mempunyai penghasilan rata-rataper hari Rp. 21.000,- - Rp.40.000,-.
Dari penelitian yang telah dilakukan secara garis besar pendapat responden adalah sebagai berikut:
B. Faktor yang mempengaruhi perempuan melakukan migran sirkuler
a. Faktor pendorong
1. Pekerjaan di daerah asal sebanyak 14responden (28%) adalah berjualan.
Dikarenakan tidak adanya suatu peningkatanyang cukup berarti dan terbatasnya pembeli,
maka memilih untuk mencoba keluar daerah untuk mendapatkan penghasilan yang lebih
baik, dan tetap melakukan pekerjaan dengan usaha mandiri dengan tetap berjualan yang tidak memerlukan ketrampilan khusus, yang penting memperoleh pendapatan yang layak.
2. Upaya untuk mencari peluang bekerja diluar daerah sebanyak 26 responden (52%) adalahterbatasnya lapangan pekerjaan di daerah asal.Dalam pengertian lapangan pekerjaan yangada memerlukan ketrampilan khusus. Sedangkan perempuan sebagian besar berpendidikan SD.Untuk itulah perempuan akan tersingkirkandalam memperoleh pekerjaan yang layak. Yang akhirnya hanya bisa bekerja dengan kemampuan yang dimiliki yaitu berjualan barang dagangan yangjumlahnyapun tidak terlalu banyak.
3. Upaya untuk melakukan usaha mandiri sebanyak 26 responden (52%) adalah ingin mandiri tidak bergantung pada orang lain, ingin membantu suami, tradisi turun temurun, mencari kesibukan, menghidupi keluarga, sulitnya berusaha di desa,ingin berdagang, melanjutkan usaha suami,mencukupi kebutuhan keluarga.
4. Sumber informasi untuk memperoleh pekerjaan pertama kali di kota sebanyak 21 responden (42%) adalah atas usaha sendiri. Dengan mudahnya jarak yang bisa ditempuh dengan segala macam sarana transportasi memudahkan untuk melakukan mobilitas / gerak sosial antara esa ke kota tanpa kesulitan apapun.
5. Cara untuk memutuskan pergi ke kota sebanyak 35 responden (70%) adalah dipertimbangkan dengan suami dan anak. Dalam hal ini perlu persetujuan dengan suami, yang mendukung sepenuhnya upaya yang dilakukan si isteri untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Suami tinggal di daerah untuk bekerja sesuai dengan apa yang bisa dilakukan. Dan terkadang suami juga berada di kota untuk bekerja pula.
b. Faktor penarik
1. Ketertarikan untuk usaha mandiri di daerah tujuan sebanyak 9 responden (18%) karena lebih banyak peluang untuk berusaha serta sebagian responden lainnya berpendapat lebih banyak pembeli, lebih banyak memperoleh keuntungan dan juga beberapa aspek daya tarik kota yang bisa mendukung berhasilnya usaha mandiri.
c. Faktor penghambat
1. Selama melakukan usaha mandiri sebanyak 19 responden (38%) kadang-kadang mengalami hambatan karena modal..Agar supaya tetap bisa berjualan, upaya yang dilakukan adalah mengambil simpanan yang terkumpul, menyesuaikan jumlah barang dagangan dengan modal yang ada, pinjam dengan jalan setiap hari bayar angsuran, pinjam Bank Pasar, pinjam saudara.

2. Selama melakukan usaha mandiri sebanyak 23 responden (46%) kadang-kadang mengalami hambatan karena keberadaan tempat berjualan .Seperti yang dialami ada yang disuruh menutup warung / kios pada saat hari besar, ada pembersihan kota disuruh tutup, harus bongkar pasang tenda bagi yang berjualan dipinggir jalan protokol, banjir apabila hujan, yang berjualan diluar los pasar terkadang diusir oleh petugas ketertiban pasar, terkena pungutan liar dan sebagainya.
3. Selama melakukan usaha mandiri sebanyak 16 responden (32%) kadang-kadang mengalami hambatan karena harus bersaing dengan orang lain yang menjual barang dagangan yang sejenis. Hal ini juga dapat digunakan untuk motivasi sehingga ada peningkatan barang dagangannya dan keuntungan yang diperoleh jadi bersaing secara sehat.
4. Selama melakukan usaha mandiri sebanyak 21 responden (42%) kadang-kadang mengalami hambatan karena ada pembeli yang berhutang. Bagaimanapun usahanya mencari uang bagi perempuan boro yang berjualan dalam jumlah yang sedikitpun ternyata masih bisa menyenangkan pembeli dengan tidak membayar langsung / hutang. Mereka percaya pasti akan dibayar ketika belanja lagi. Tetapi yang terjadi pembeli tidak kembali lagi dan tidak bisa dilacak keberadaannya. Mereka ikhlas menerima perlakuan tersebut, dan tetap berusaha untuk berjualan dengan modal yang pas-pasan.
5. Sebanyak 12 responden (24%) kadang-kadang mengalami hambatan karena tindak kekerasan dari petugas ketertiban. Seperti gerobak ataupun tenda berjualan diambil paksa, disuruh pindah ketempat lain, dilarang berjualan, pembersihan kota barang diambil sebelum sempat dibenahi, pungutan liar dari petugas yang mengaku keamanan setempat.
6. Sebanyak 34 responden (68%) kadang-kadang mengalami hambatan untuk berjualan karena harus pulang ke daerah asal. Dikarenakan ada pemberitahuan mendadak dari keluarga karena sesuatu sebab.
7. Sebanyak 14 responden (28%) kadang-kadang harus berurusan dengan tempat tinggalsementara. Mereka terkadang disuruh pergi,pindah tempat karena sewa kamar biayanya naik.
8. Sebanyak 37 responden (74%) kadang-kadang mengalami kerugian. Barang dagangan tidak laku dan rusak, seperti penjual buah banyak yang busuk dan harus dibuang, barang tidak habis terjual, tidak kembali modal, pembeli tidak membayar hutang, sepi tidak ada pembeli. Kondisi inilah yang dialami responden dalam kesehariannya dan mereka tidak pernah putus asa.
9. Sebanyak 26 responden (52%) kadang-kadang mengalami hambatan karena pengaruh cuaca. Cara yang dilakukan ada yang mengurangi jumlah dagangan yang dijual, hujan lebat tidak berjualan, harus pasang tenda / payung, tempat berjualan jalannya becek sehingga sepi pembeli.
C. Motivasi perempuan migran sirkuler melakukan usaha mandiri
a. Motif
1. Sebanyak 10 responden (20%) dorongan menjalani usaha mandiri karena untukmeningkatkan kesejahteraan. Sebagian responden yang lain karena harus menghidupi
keluarga, suami tidak mempunyai penghasilan tetap, dan kesemuanya ini merupakan motif ekonomi, yaitu bagaimana upaya untuk mempertahankan dan mencukupi kebutuhan
keluarga.
2. Tujuan selain usaha mandiri sebanyak 19responden (38%) karena berusaha mencari nafkah. Mereka tidak mempunyai/membayangkan tujuan lainnya. Kalau ingin beraktivitas yang lain tentu memerlukan sebuah persyaratan ataupun biaya sehingga tidak dipikirkan yang penting bisa berjualan secara rutin.
3. Keinginan setelah berada di kota sebanyak 25 responden (50%) karena ingin beraktivitas sesuai kemampuan yang dimiliki. Ada pula responden yang ingin menikmati fasilitas yang ada di kota, menyesuaikan kehidupan dengan pola budaya kota, dan ada yang merasakan kebebasan dalam memutuskan sesuatu keinginan.
b. Harapan
1. Harapan perempuan migran sirkuler melakukan usaha mandiri sebanyak 38 responden (76%) sering berupaya meningkatkan usaha. Namun terbentur pada modal yang dimiliki, selama bisa mendapatkanpinjamanpastidipergunakan untuk menambah jumlah /jenis usaha yang dijual.
2. Selama menjalani usaha mandiri sebanyak 41 responden (82%) kadang-kadang ada harapan untuk peningkatan pendapatan. Berjualan dalam keseharian serba tidak menentu dan kadang mengalami kerugian juga.
3. Dari pendapatan yang diperoleh sebanyak 26 responden (52%) kadang-kadang bisa mencukupi kebutuhan keluarga.
4. Sebanyak 11 responden (22%) sering menyisihkan sebagian hasil usaha mandiri untuk
ditabung, karena usaha yang dijalankan dalam jumlah banyak dan tentunya hasil yang diperoleh
juga memadai.
D.Pergeseran peran keluarga pada perempuan migran sirkuler
a. Mengasuh anak
1. Yang mengasuh anak selama ditinggal di daerah asal sebanyak 19 responden (38%) adalah ibu dan bapak kandung dari perempuan boro. Hampir menjadi suatu kebiasaan bahwa seorang ibu lebih nyaman untuk menitipkan anak pada ibu bapak kandungnya, karena dirasakan lebih mantap dan memiliki rasa kepercayaan yang sangat kuat untuk mengasuh dan mendidik anak dengan baik.
2. Sebanyak 49 responden (98%) mempercayakan sepenuhnya pengasuhan anak pada orang yang mengasuh di daerah asal. Para perempuan boro telah bertekad untuk mencari pengalaman dan berusaha mandiri dengan kekuatan, ketrampilan dan modal yang dimiliki. Sehingga dengan berat hati harus punya keyakinan bahwa anak yang ditinggal akan tenang tidak ada persoalan apabila dititipkan dan percaya sepenuhnya pada orang yang mengasuh.
3. Pola asuh yang diterapkan terhadap anak yang ditinggalkan di daerah asal sebanyak 29 esponden ( 58%) anak harus mentaati aturan. Cara yang dilakukan kurang berdampak positif bagi anak, karena bisa dikatakan otoriter yaitu setiap perintah harus dilaksanakan. Hal ini akan mematikan kreativitas anak, anak merasa takut, merasa bersalah bila inginenyampaikan keinginan, sehingga cenderung akan menjadi anak pemurung, pendiam, penakut, merasa rendah diri dan sebagainya.
4. Anak yang ditinggal di daerah asal sebanyak 21 responden (42%) kadang-kadang mengalami persoalan / kesulitan. Misal si ibu terlambat untuk mengirim atau mengantar uang sekolah dan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, tentunya akan mendapat surat peringatan dari sekolah dan juga kurang dipenuhinya gizi yang diperlukan anak karena makan seadanya sesuai keuangan yang dimiliki.
5. Upaya yang dilakukan apabila mengetahui persoalan anak sebanyak 29 responden (58%) menyelesaikan persoalan yang dihadapi bersama-sama. Apabila mengetahui persoalan yang dihadapi anak berupaya pulang untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sehingga perhatian tetap ada, meskipun di daerah rantau sesungguhnya seorang ibu tetap memikirkan bagaimana keberadaan anak yang ditinggalkan.
b. Mendidik anak
1. Untuk menentukan pendidikan yang harus ditempuh anak sebanyak 23 responden (46%) sebaiknya orang tua, sedangkan 23 responden (46%) lainnya terserah keinginan anak. Orang tua beranggapan bahwa jenjang sekolah tentunya disesuaikan dengan kemampuan biaya yang bisa diharapkan dari hasil usaha yang ditekuni. Apabila yang menentukan anak harus tetap dipantau agar tidak sia-sia untuk mencapai cita- cita yang diharapkan.
2. Keberadaan pendidikan / sekolah anak sebanyak 18 responden (36%) kadang-kadang mengalami hambatan. Beberapa anak pernah tidak naik kelas, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering tidak masuk sekolah, sering bertengkar dengan teman. Hal ini terjadi karena kurangnya perhatian dari orang-orang terdekat terutama dari orang tuanya yang dalam keseharian tidak dapat bertemu karena terpisahnya tempat tinggal.
3. Apabila anak mengalami kesulitan dalam belajar sebanyak 22 responden (44%) diharapkan dapat mengatasi sendiri.. Dalam diri anak akan timbul suatu sikap yang patuh dan merasa takut apabila tidak dapat menyelesaikan kesulitan yang dihadapi. Dan perasaan anak akan tertekan dan bahkan akan menimbulkan sifat yang pendiam.
4. Sebanyak 38 responden (76%) kadang-kadang mempunyai waktu untuk memenuhi
keinginan anak. Bagi perempuan boro waktu untuk memperhatikan keinginan anak tidak sebanyak seperti satu keluarga yang setiap harinya bertemu dan saling bercerita. Meskipun dipisahkan oleh jarak mereka masih tetap berusaha memenuhi keinginan anak.
5. Sebanyak 33 responden (66%) kadang- kadang mempunyai waktu untuk memenuhi kebutuhan anak sehar-hari. Bertemunya dengan anggota keluarga disesuaikan dengan sempat dan tidaknya pulang ke daerah asal karena beberapa sebab. Sehingga kebutuhan anak akan rasa kasih sayang, kebutuhan akan dihargai tidak seutuhnya bisa dirasakan.
6. Sebanyak 31 responden (62%) tidak pernah mempunyai waktu untuk rekreasi bersama anak. Rekreasi merupakan salah satu cara untuk menghilangkan kelelahan, kejenuhan, kepenatan dan kebosanan setelah melakukan suatu aktivitas. Juga sebagai wujud kebersamaan diantara anggota keluarga, merupakan wahana pendidikan .karena banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh apabila pergi kesuatu tempat yang penuh dengan aneka ragam hasil budaya, Sangat disayangkan apabila anak-anak dari perempuan boro tidak dapat menikmatinya.
7. Yang paling banyak mencukupi kebutuhan anak sebanyak 38 responden (76%) adalah orang tua. Orang tua sebagai tulang punggung keluarga, maka seberat apapun upaya yang dilakukan harus bisa menghasilkan pendapatan yang sangat diperlukan sekali bagi keluarga yang sementara ditinggalkan.
8. 8. Sikap yang dilakukan oleh orang yang mengasuh menurut 11 responden (22%) adalah keras. Kekerasan hanya membuat anak merasa takut dalam seketika. Tetapi lama kelamaan anak akan bersikap acuh tak acuh terhadap aturan atau perintah yang diterima dari orang yang mengasuh. Bahkan bagi perkembangan anak akan muncul sifat pendendam, pemberontak dan tidak kreatif.
c. Melindungi anak
1. Upaya yang dilakukan oleh orang yang mengasuh sebanyak 48 responden (96%)mengatakan dibawa ke dokter / rumah sakit / Puskesmas apabila anak sakit. Kesadaran
untuk memeriksakan anak sakit sudah tinggi, karena masing-masing daerah sudah ada Puskesmas yang mudah dijangkau.
2. Bila anak melakukan kesalahan sebanyak 25 responden (50%) mengatakan dibiarkan saja oleh orang yang mengasuh. Dengan alasan suatu saat nanti anak dapat menanggung sendiri akibat baik buruknya. Hal ini tidak mendukung bagi perkembangan kepribadian seorang anak.
3. Yang menentukan jodoh bagi anak menurut 34 responden (68%) adalah pilihan anak sendiri. Anak diberi kebebasan untuk memilih dan orang tua tinggal menyetujui. Kepercayaan yang diberikan pada anak hendaknya dapat memprtimbangkan segala sesuatunya dengan sebaik mungkin jangan sampai digunakan hanya untuk kesenangan sesaat.
4. Sebanyak 6 responden (12%) mengatakan kadang-kadang anak mendapatkan perlakuan yang kurang baik / kekerasan dari orang yang mengasuh. Apabila perlakuan ini sering diterapkan akan berakibat trauma pada diri anak yang akan terbawa kelak sampai dewasa, apalagi ekerasan psikis. Anak juga akan menjadi pemberontak dan pembangkang.
5. Hubungan yang terjalin dengan anak sejumlah 34 responden (68%) mengatakan baik. Hubungan baik ini tercermin dari perhatian yang diberikan oleh si ibudengan memperhatikan keperluan dan kebutuhan anak sedapat mungkin bisa terpenuhi.Lagipula tidak pernah terjadi pertengkaran dengan anak.
6. Yang dilakukan ketika pulang sejumlah 28 responden (56%) menayakan keberadaan anak. Terkait dengan hubungan yang baik dengan anak, maka ketika ada waktu luang menyempatkan diri untuk pulang, dan menanyakan keberadaan anak. Baik tentang kesehatan, sekolah, pergaulan sehari-hari, serta kebutuhan yang harus dipenuhi, ada masalah atau tidak yang menyangkut anak.
7. Keberadaan responden ditengah keluarga sebelum berangkat lagi ke daerah tujuan menurut 42 responden (84%) rata-rata 1 – 7 hari
8. Waktu untuk menjenguk keluarga di daerah asal menurut 40 responden (80%) adalah setiap- 2 bulan sekali.
G. Kesimpulan :
1. Faktor yang mempengaruhi perempuan melakukan migran sirkuler (boro) untuk melakukan usaha mandiri didaerah tujuan sebagai faktor pendorong yang paling dominan adalah : terbatasnya lapangan pekerjaan didaerah asal; ingin mandiri tidak bergantung pada orang lain, ingin membantu suami, tradisi turun temurun, mencari kesibukan, menghidupi keluarga, ingin berdagang, melanjutkan usaha suami, mencukupi kebutuhan keluarga, dan telah memiliki modal berdagang karena pekerjaan didaerah asal adalah berjualan. Sebagai faktor penarik untuk meninggalkan daerah asal yang paling dominan adalah : lebih banyakpeluang untuk berusaha ; sebagian kecil responden lainnya berpendapat mudah berganti jenis usaha, lebih banyak pembeli, lebih banyak keuntungan dan menjanjikan untuk masa depan keluarga. Sebagai faktor penghambat yang paling dominan adalah : kadang-kadang mengalami hambatan karena modal ; keberadaan tempat berjualan; bersaing dengan sesama pedagang yang menjual barang dagangan sejenis ; pembeli yang berhutang ; tindak kekerasan dari petugas ketertiban ; mengalami kerugian.
2. Motif yang paling dominan bagi perempuan migraisirkuler (boro) untuk berusaha mandiri adalah untuk meningkatkan kesejahteraan ; berusah; mencari nafkah dan ingin beraktifitas dengar masyarakat sekitar. Adapun harapan yang ingii dicapai adalah : meningkatkan usaha peningkatan pendapatan; mencukupi kebutuhar keluarga dan kesempatan untuk menabung.
3. Pergeseran peran keluarga yang dialami oler
perempuan migran sirkuler yang paling dominan adalah : sebagian besar responder telah mempercayakan sepenuhnya pengasuhan anak pada orang yang mengasur didaerah asal dan kebanyakan diasuh oler oleh ibu dan bapak kandung dari perempuar yang ingin berusaha mandiri; pola asuh yang dilakukan oleh orang tua pengganti cenderung otoriter ; anak yang ditinggalkan terkadang mengalami persoalan / kesulitan yang dihadapi ; keberadaan pendidikan / sekolah anak kadang-kadang mengalami hambatan : apabila ada kesulitan anak diharapkan dapai mengatasi sendiri; keinginan dan kebutuhar anak kadang-kadang dapat dipenuhi ; wakti kebersamaan dengan anak banyak yang hilang ; sikap yang dilakukan oleh sebagian kecil orang tua pengganti adalah keras ; bila anak melakukan kesalahan cenderung dibiarkan saja dan ada pula yang dimarahi ; kadang-kadang anak mendapatkan perlakuan kekerasan dari orang tua pengganti. Walaupun keberadaan perempuan migrant sirkuler tetap menjadi harapan seluruh keluarga, namun ada sisi-sisi kehidupan keluarga yang hilang baik bagi dirinya maupun keluarga / anak yang ditinggalkan. Bisa dikatakan telah terjadi pergeseran peran keluarga.

H.Saran :
1. Masing-masing daerah asal mampu menyediakan lapangan pekerjaan sesuai
dengan ketrampilan yang dimiliki oleh perempuan yang tidak sempat mengenyam pendidikan atau hanya tamat maupun tidak tamat SD. Sebenarnya perempuan mempunyai potensi yang perlu dikembangkan.
2. Mengadakan pelatihan / kursus ketrampilan yang nantinya perempuan dapat memanfaatkan
ketrampilan yang diperoleh untuk membuka usaha mandiri yang bersifat informal didaerah asal, sehingga tidak meninggalkan sanak keluarga kedaerah tujuan untuk mencari pekerjaan dengan demikian tidak terjadipergeseranperan keluarga. Hal ini jugawujud partisipasi perempuan dalam bidang perekonomian.
3. Adanya lembaga yang mampu untuk mengkoordinir perempuan yang benar-benar
ingin berusaha mandiri dengan menyediakan pinjaman permodalan, sehingga tidak terjerat oleh rentenir yang ada di pasar/ tempat kebanyakan perempuan boro berjualan. Perempuan akan menerima manfaat dari kebijakan yang ada.
4. Adanya penertiban dan sosialisasi secara kontinyu dari petugas, agar perempuan yang berjualan tetap berada pada los / tempat yang telah ditentukan, sehingga pasar / tempat-tempat berjualan terlihat rapi, bersih, aman dan tidak mengganggu lalu lintas umum. Serta tidak terjadi perlakuan yang semena-mena / tindak kekerasan dari petugas terhadap perempuan yang berjualan tidak pada tempatnya. Bagaimanapun juga perempuan yang datang dari daerah asal tidak dapat dipersalahkan, karena mereka mempunyai motivasi dan harapan yang sangat tinggi untuk mencari peluang usaha di kota yang penuh daya tarik bahkan sangat menjajikan, sehingga hams diperlakukan secara manusiawi.
5. Adanya upaya dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup dengan cara memberikan sosialisasi kepada warga masyarakat tanpa kecuali tentang peran keluarga yang harus
dijalankan sebagaimanamestinya, sehingga apabila terpaka salah satu anggota keluarga (dalam hal ini si ibu) haras meninggalkan rumah untuk bekerja di luar daerah dalam kurun waktu yang relative cukup lama, eran ibu yang sesungguhnya tidak dapat tergantikan terpaksa digantikan oleh orang-orang terdekat dengan keluarga inti. Diharapkan seorang anak dapat memperoleh pengasuhan, pendidikan dan perlindungan dari pengganti orang tua yang sebenarnya. Dengan demikian apabila terjadi pergeseran peran keluarga yaitu peran orang tua, seorang anak tetap memiliki kepribadian yang mantap dan penuh tanggung jawab kelak ketika bermasyarakat dan sebagai penerus generasi bangsa yang tangguh dengan mendapatkan sosialisasi yang baik dari lingkungan keluarga dimana seorang anak dibesarkan.


DAFTARPUSTAKA
1981, Lembaga Demografi, Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia
1997, Bulletin Suara Merdeka, Malang : PSW dan Kemasyarakatan Universitas Muhamadiyah Malang
2001, Jurnal Pemberdayaan Perempuan, Jakarta: Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia
2003, Penerapan KKG Di Tengah Keluarga, Media Perempuan Edisi IV, Jakarta: Biro Umum Humas dan Kementrian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia
2003, Perlindungan Anak, Jakarta : UNICEF
2005, Kebijakan Pembangunan Pengarusutamaan Gender (PUG) di Propinsi Jawa Tengah, Bappeda Propinsi Jawa Tengah
2005, Pembangunan Berperspektif Gender, Jakarta : Dian rakyat Bintarto, R, 1984, Interaksi Desa Kota, Jakarta: Ghalia Indonesia
Gerungan,WA, 2004, Psikologi Sosial, Bandung: PT. RafikaAditama
Hugo, 1975, Population Mobilitation in West Java,ph.D thesis (Canberra : Australia National University)
Goode, William J., 1983, Sosiologi Keluarga, Jakarta : PT. BinaAksara Khairuddin H, 1985, Sosiologi Keluarga, Yogyakarta: Nurcahaya Mantra, 1985, Peta Mobilitas Penduduk Dari Desa kota, Yogyakarta: Pusat
Studi Kependudukan UGM Sukesi, Keppi, 1991, Status dan Peranan Perempuan : Apa Arti dan Implikasi
Bagi Studi Perempuan,Warta Studi Perempuan, Volume 2.

0 komentar:

Poskan Komentar