Kamis, 15 Juli 2010

Pengrajin Barongsai


PDF Print E-mail

Marfu’ah, Ketua RT Yang Merendah

Tidak muluk cita-citanya, cuma ingin berusaha menambah penghasilan keluarga. Dengan Rp 2 juta sebulan, ia berani menentukan pilihan dan menjadi perempuan mandiri secara ekonomi karena suami.


PEREMPUAN ini tergolong lebih beruntung ketimbang perempuan pada umum lainnya. Ia memang tidak sedang menapaki karier sebagai seorang yang terkenal. Atau ketiban rezeki dalam jumlah yang luar biasa untuk ukuran perempuan seperti dia. Apa sebenarnya yang istimewa sehingga ia dianggap lebih beruntung. Mungkin suaminya ganteng dan kaya, seperti itulah ungkapan yang lazim. Ia malah senyum dan merapikan rambutnya yang dibiarkan tersibak angin. “Saya itu perempuan desa yang rela mengerjakan apa saja untuk keluarga,” akunya agak malu-malu.

Mulailah ia bercerita tentang dirinya. Sepuluh tahun lalu, ia merintis usaha barongsai bersama keluarga tercintanya. Sebetulnya tidak ada yang berlebihan dari usaha yang dibangun tersebut. Seperti layaknya masyarakat Semarang, usaha membuat barongsai juga banyak dilakukan oleh orang lain. Namun menyimak upaya Marfu’ah, begitu nama perempuan tersebut, dalam menghidupkan perekonomian keluarga, ini memang agak berbeda.

Ingin Bangkit

Lahir sebagai perempuan tidak menjadikan Marfu’ah lemah. Ia dibesarkan dalam keluarga yang mengajarkan anak-anaknya harus mandiri. “Aku sudah belajar berorganisasi sejak masih remaja,” ujarnya sembari merapikan barongsai. Jadi tidak kaget, saat ia harus membantu mencari nafkah untuk anak-anaknya yang berjumlah empat orang. “Umumnya orang desa ya berjualan di pasar,” katanya menjelaskan.

Namun setelah anak-anaknya menginjak besar, penghasilan suaminya ditambah dari hasil penjualan sayur mayur masih belum mencukupi. “Saya serabutan untuk tambahan keluarga,” akunya. Sejak itulah ia menyibukkan dirinya dengan jualan pisang keliling kampung di sore hari. Selain itu, ia juga sibuk dengan kegiatan di desa hingga kabupaten. Sampai-sampai Ibu Lurah yang sekarang sangat bergantung padanya. “Hampir semua urusan yang menyangkut PKK, Pos Yandu, sampai pemberdayaan perempuan, hingga rapat di kecamatan,” nadanya mulai tegas.

Kesibukan yang luar biasa itu malah menjadikan Marfu’ah lebih siap. Ia pun kemudian dipercaya menjabat sebagai Ketua RT dan ketua kelompok kerja lainnya. Dasar Marf’uah, sudah sesibuk itu masih juga tergoda dengan JARPUK. “Saya senang berorganisasi dan banyak manfaat yang saya peroleh,” demikian alasannya. Kendati ia tak sampai menamatkan sekolahnya di SPG, semangat untuk belajar dan maju tak pernah memudar.

Didukung Suami dan Buka Usaha

Hal yang paling membahagiakan adalah saat ia berpamitan untuk mengikuti seragkaian kegiatan, suaminya mengijinkan. “Suami saya sangat mendukung saya,” akunya sedikit bangga. Boleh jadi, Marfu’ah memang harus berbangga. Karena suaminya memberikan kepercayaan sekaligus dukungan moral. Dari sinilah kemudian berkembang menjadi sikap saling membantu dan mengerti. Makanya, ketika anak bungsu mereka merengek minta dibelikan barongsai, muncul ide kreatif. Kebetulan suaminya memiliki jiwa seni. Ia penasaran, bagaimana membuat barongsai itu. Akhirnya, ia bongkar dan setelah diotak-atik seakan menemukan jalan. “Oh ternyata nggak susah,” ujar perempuan berkulit hitam manis ini. Dari rasa penasaran, lahirlah sebuah usaha yang dapat diandalkan.

Dan apa yang dikatakan Marfu’ah kemudian menjadi kenyataan. Dengan modal tak lebih dari Rp 100 ribu ia bisa membuat barongsai seperti yang ia beli dari seorang pedagang. Bahkan kreasinya kebih bagus. “Kami mulai menseriusi usaha ini dan mengajak anak-anak juga keponakan yang tinggal di rumah,” ujar perempuan yang mengaku tak bisa cuma leyeh-leyeh di rumah.

Dari sinilah awal kebangkitan usaha permanen yang dimiliki oleh keluarga Marfu’ah. Sebagai pengrajin barongsai, ia tak perlu repot menjajakan barang daganganya ke pasar. “Kami punya langganan pedagang kaki lima. Jumlah produksi kami juga belum besar,” tuturnya. Memang Marfu’ah masih membatasi pembuatan barongsai. Supaya modal yang ada dapat bergulir, ia menerapkan pola ada barang ada uang kepada para langganannya.

Omzet Rp 2 Juta Sebulan

Untuk ukuran pengusaha kecil, nilai tersebut sangat berarti. Dari pekerjaan yang kesemuanya dilakukan oleh anggota keluarga, Marfu’ah kini dapat bernafas lega. Pasalnya, ia tak lagi harus pusing memikirkan bayaran anak sekolah, belanja harian, atau perbaikan rumah. Sebuah kendaraan --- kendati kredit --- sudah dapat dimiliki. Urusan uang SPP dan kebutuhan primer bahkan sekunder lainnya terpenuhi. Itu baru dari penghasilan barongsai. Padahal, ia meskipun menjabat sebagai ketua RT, ia juga masih menjajakan pisang ambon di sore hari keliling kompleks perumahan. Kebetulan sebagain besar penghuni komleks adalah warga tionghoa. “Hubungan saya dengan mereka baik dan mereka juga suka memesan buah pada saya,” ucap Marfu’ah yang memilih pisang turahan di pasar dengan alasan muran dan kemudian diiderkan ke ke kampung-kampung.

Sedikitpun tak ada perasaan canggung menjajakan dagangan keliling kampung. Atau setiap akhir pekan harus menunggui dagangannya di Simpang Lima, Semarang. Sementara di lain hari ia mengikuti rapat bersama pejabat desa sampai kabupaten. Begitulah Marfu’ah, sosok perempuan yang tak pernah mau menyerah. Menjadi ibu rumah tangga, mencari nafkah, mengikuti pelatihan kewirausahaan, penyadaran politik perempuan, sebagai panutan masyarakat, masih harus ngider berjualan pisang ke kampung-kampung sore menjelang Magrib.

Ia tak pernah mengeluhkann kesehariannya. Begitu juga suaminya yang sangat mendukung kegiatannya. Setiap pagi, ia bergegas memasak dan menyediakan sarapan. Lantas mengantar anak-anak ke sekolah. Selanjutnya pekerjaan membuat barongsai bersama suaminya telah menanti. Ketika menjelang malam, ia mengantar suaminya untuk memainkan organ tunggal si sebuah restoran dan menyanyikan lagu kehidupan.

Keterbatasan dalam memproduksi tasnya, terlebih ketika adik-adiknya sudah mentas dan menamatkan kuliahnya, sehingga praktis tenaga kerja berkurang. Kini yang menjadi andalan adalah para ibu, mitra binaannya. Dengan dibantu sekitar 50 orang ibu-ibu, dapat dihasilkan sebanyak 2500 tas. “Itu pun kami sudah maksimal dan memang kemampuannya baru segitu,” katanya.

Untuk sementara ini, Indah melayani pesanan tetap sebanyak 750 tas berbagai model yang dikirim ke langganannya di Denpasar. Kemudian, sekitar 750 tas juga diekspor ke Malaysia, barulah sisanya dilempar ke pasar lokal. Rutinitas ini sudah dikerjakannya selama beberapa tahun.

Kini Indah dan suaminya sangat memperhatikan manajemen agar tidak lagi bangkrut. Indah mengakui, permintaan pasar yang datang dari dalam dan luar negeri, terus memenuhi daftar orderannya. Namun, ia yang hanya dibantu enam orang tenaga kerjanya, masih belum mampu memenuhinya. “Terus terang produksi kami belum mampu. Karena semua dikerjakan secara tradisional,” tutur Indah. Kendati demikian, Indah memperoleh omzet sekitar 10 juta rupiah, setiap bulannya. Indah merasa cukup, karena yang terpenting baginya, anak-anak tidak kesulitan biaya dan ibu-ibu dapat penghasilan tambahan.

0 komentar:

Poskan Komentar