Kamis, 15 Juli 2010

Lompatan Entrepreneurship Perempuan Menuju Kemandirian

DAMPAK krisis keuangan global mulai terasa. Hampir seluruh masyarakat dunia cemas. Kecemasan ini beralasan karena bakal mengganggu stabilitas perekonomian negara yang berimbas pada kondisi ekonomi masyarakat dan keluarga. Hal itu juga dirasakan masyarakat Indonesia. Puluhan juta keluarga menjadi semakin cemas dan kondisinya mengkhawatirkan. Keluarga-keluarga yang baru saja beranjak bisa “naik kelas” ke posisi lebih baik harus kembali terancam terpuruk. Lantas bagaimana dengan keluarga-keluarga lain yang masih terpuruk, dengan adanya krisis akan semakin membenamkan mereka?

Kondisi sulit dihadapi keluarga merupakan tantangan besar bagi kaum ibu, utamanya ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga sebagai garda terdepan pengelola manajeman keluarga harus berpikir keras mencari berbagai terobosan demi menyelamatkan kondisi ekonomi keluarganya. Mampukah kaum ibu dan perempuan Indonesia menunjukkan kemandiriannya, dan membuktikan diri mampu mengurai dampak krisis global ini dengan inovasi dan kreativitasnya?

Menurut Ketua Kowani Bidang Moral Agama dan Ketenagakerjaan ini, perempuan melalui entrepreneurship bukan saja bisa mandiri, bahkan bisa membantu keluarganya dan masyarakat sekeliling. Memang ini bagus, namun masih ada yang perlu didorong, terutama kaum perempuan di daerah pedesaan. Karena itu bagi kaum perempuan yang posisinya berada di level tinggi atau kaya dan berkecukupan, diimbau untuk bias menyumbangkan pikiran maupun materi kepada sesama perempuan. Supaya masyarakat perempuan itu bisa mandiri. “Insya Allah kalau perempuan itu bisa mandiri, negara akan aman,“ tutur Machsanah Asnawi yang besar di lingkungan pesantren yang ditekuni ayahnya, KH Asfani tetapi untuk urusan pendidikan dijalaninya di sekolah umum dari sekolah dasar hingga SMA Negeri I Yogyakarta serta selesai kuliah di Fakultas Sosial Politik Jurusan Hubungan Luar Negeri Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Ia mencontohkan, misalnya terkait dengan narkoba, pendidikan anak, apakah keluarga ini konsen terhadap pendidikan anaknya. Hak ibu harus adil, jangan pria aja, tetapi perempun juga harus memperoleh hak yang sama untuk disekolahkan. Mantan diplomat yang pernah mengemban tugas di Myanmar (Burma), Singapura dan Swiss ini, selama perjalanan hidupnya ia ingin kaum perempuan bisa tampil dan mandiri baik di legislatif maupun kepemerintahan. “Karena itu saya sangat mendorong sekali kaum perempuan serius dalam menekuni dan mengembangkan dunia entrepreneurship sebagai upaya mewujudkan kemandiriannya. Melalui usaha yang ditekuni dan dikelolanya baik secara individu maupun kelompok, sehingga tujuan kemandirian itu bias tercapai, dan dapat membantu keluarga dan masyarakat sekitarnya,” urainya. Hal senada juga dikemukakan Dr Ir Illah Sailah, MS mantan Ketua Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia (P2SDM) IPB Bogor yang kini di Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Ia menilai jiwa entrepreneurship bagi kaum perempuan itu sangat perlu. Karena perempuan itu harus mandiri. Kaum perempuan jangan terlalu menggantungkan pada apa yang selalu didapatkan suami. “Dengan kemandirian perempuan itu, dia lebih leluasa untuk mengatur secara keuangannya itu untuk kebutuhan anak-anaknya, dan sebagainya,” papar Illah, demikian akrab disapa. Tetapi dari itu semua, lanjut dia, yang paling penting sekali dengan adanya perempuan banyak kewirausahaan dia. “Jadi, spiritnya yang diambil. Bukan hanya uangnya. Kalau uang itu reward,” ujarnya. Artinya, begitu dia bagus, kerja keras, dan sebagainya, kemudian menguntungkan itu reward. Tetapi, kalau perempuan sudah melakukan kewirausahaan, lama-lama dia mau tidak mau, suka tidak suka akan jadi mandiri. Ia memberi contoh, pahit-pahitnya suaminya meninggal, misalkan, dia percaya diri saja. Karena, dia sudah mengetahui bagaimana kesulitannya menjadi singgle parent. Selama dia membangun soft skils, maka dia akan siap. Menurut ibu tiga anak yang lulusan S1 Jurusan Tehnologi Hasil Pertanian IPB Bogor, S2 Jurusan Tehnik Kimia ITB Bandung, dan S3 Jurusan Tehnik Kimia Queenlands University, Australia ini, kalau perempuan berwirausaha itu dilakukan atas keinginan sendiri, dan bukan diminta oleh orang lain, berarti dia ingin mewujudkan impiannya itu. Dalam mewujudkan impiannya itu, dia mencari akal, sehingga impiannya itu tercapai. “Di situlah lama-lama kemandirian itu muncul, tumbuh dan berkembang, akhirnya menjadi lebih percaya diri karena telah mempunyai kemampuan membangun kemandiriannya, sudah bias mewujudkan impiannya,” kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB ini yang getol mengembangkan berbagai program kemitraanya dengan Yayasan Damandiri, termasuk Posdaya (Pos Pemberdayaan Keluarga). Hal seperti itu, menurut Illah, bisa juga dilakukan oleh kader-kader Posdaya. Asalkan mau mulai dari yang kecil. “Kita boleh think big (berpikir besar), tetapi mulailah dari yang kecil tapi patok, saya ingin jadi apa. Jadi ada target yang ingin dicapai. Kalau tidak ada target tidak hidup,” tuturnya seraya menambahkan, “dia harus sadar betul bahwa di depan ada rintangan, namun rintangan itu jangan dianggap sebagai kendala tetapi justru harus bisa memanfaatkannya sebagai peluang.” Perempuan kelahiran, Garut, Jabar, 21 Mei 1958 lalu ini, menegaskan, bagi perempuan yang punya suami dan anak itu, maka yang paling penting adalah dia harus selalu membuka diri untuk belajar dan belajar serta mencari berbagai informasi tentang itu.

Perempuan kreatif

Seperti dikatakan “Master” entrepreneurship Indonesia, Dr Ciputra dengan menciptakan entrepreneur, ia berkeyakinan kelompok kreatif ini bisa membawa bangsa ini menuju kemajuan. “Suatu bangsa akan maju jika jumlah entrepreneur- nya paling sedikit 2 persen dari jumlah penduduk,” ujarnya. Singapura, sebut misalnya, jumlah entrepreneur- nya sekitar 7,2 persen dan Amerika Serikat 2,14 persen, sedangkan Indonesia yang berpenduduk 220 juta jiwa hanya memiliki sekitar 400.000 pelaku usaha mandiri atau sekitar 0,18 persen entrepreneur dari jumlah penduduknya. Ciputra pun berkeyakinan, Indonesia akan maju jika sedikitnya mempunyai empat juta orang entrepreneur. Bisa jadi kelompok kreatif seperti disebut Dr Ciputra yang bisa ikut membawa bangsa ini menuju kemajuan adalah Suyatmi, kader Posdaya Melati, Desa Sendang Sari, Pangasih, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia bersama kelompok forum pemberdayaan masyarakatnya ini, salah satu kegiatannya mengelola wirausaha. “Wirausaha menjadi salah satu tumpuan kaum perempuan di desa kami. Hal itu kami lakukan sebagai upaya membantu perekonomian keluarga,” ujarnya. Secara berkelompok ia mengembangkan usaha abon bebek nila. Usaha industri kecil pembuatan abon bebek nila ini selain menambah peningkatan kesejahteraan anggota, juga memperkuat tali silahturahmi sekaligus mengukuhkan gotong royong sesama perempuan, ibu rumah tangga dalam memperkokoh perekonomian keluarga. Usaha abon bebek nila. Usaha industri kecil

Usaha industri kecil pembuatan abon bebek nila ini selain menambah peningkatan kesejahteraan anggota, juga memperkuat tali silahturahmi sekaligus mengukuhkan gotong royong sesama perempuan, ibu rumah tangga dalam memperkokoh perekonomian keluarga. Usaha abon bebek nila ini merupakan satu terobosan, karena pada umumnya abon itu dibuat dari daging sapi. Tetapi pilihan bebek nila meru- Dr Ir Illah Sailah, MS Sulcha Prihasti, SE, MM kesepakatan anggota kelompok. Bebek nila selain dagingnya empuk, gurih, kandungan gizinya juga cukup baik. Dengan adanya pengembangan usaha abon bebek nila ini, serta merta masyarakat di daerah tersebut tumbuh satu pekerjaan baru, yaitu pembiakan bebek nila. Maka, budidaya peternakan bebek nila pun berkembang sangat baik. Tentu saja hal ini akan semakin menambah penghasilan keluarga. Tak urung pula usaha industri kecil pembuatan abon bebek nila yang dilakukan ibu-ibu di Desa Sendang Sari ini menambah satu julukan baru bagi Pengasih sebagai daerah budi daya bebek nila. Hal sama juga dilakukan kelompok perempuan kreatif dari Metro, Lampung. Ketua Posdaya Dasawisma Melati 19 Metro Lampung, Ny Sumirah selaku binaan LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) Universitas Muhammadiyah Metro Lampung yang merupakan salah satu LPM (Lembaga Pengabdian Masyarakat) Perguruan Tinggi mitra Yayasan Damandiri mengolah modal awal pinjaman dari LPPM Univ Metro Lampung untuk mengembangkan berbagai usaha, salah satunya industi rumahan pembuatan emping. “Alhamdulillah, produk emping kami mendapat pengakuan masyarakat. Selain renyah, gurih, terasa betul melinjonya (bahan dasar pembuatan emping). Berkat citra rasanya, tak urung setiap hari kelompok Posdaya kami harus menyediakan paling sedikit 50 kilogram sehari,” cetusnya bangga. Melihat perkembangan usaha pembuatan emping yang dikelola anggotanya, Sumirah yang juga guru SMA Negeri 2 Metro Lampung ini ingin berusaha sekuat mungkin mendorong kaum perempuan dan ibu-ibu binaannya untuk terus mengembangkan ekonomi kerakyatan ingin sebagai usaha membantu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga. Terkait hal ini, pihaknya sangat berharap adanya tambahan dukungan modal pengembangan usaha agar lebih bisa menyejahterakan lagi. Peluang kewirausahaan dan jiwa entrepreneurship juga dilakukan Dra Sri Untari Bisowarno, Ketua I Koperasi Setia Budi Wanita Malang, Jawa Timur. Bersama kelompok koperasinya berhasil mendongkrak koperasi perempuan yang pernah nyaris mati suri ini tidak hanya berhasil menaikkan aset koperasi mencapai Rp 7 milyar menjadi Rp 15,5 milyar dalam waktu 2,5 tahun, juga berhasil menggembleng mental perempuan menjadi lebih mandiri. ”Gaji karyawan Koperasi SBW saat ini sudah di atas Rp 2 juta per bulan. Transparansi, komunikasi, akuntabilitas yang saya kedepankan, supaya semua orang bisa mengakses informasi,” ucapnya. Lebih lanjut dia menambahkan, setiap anggota koperasi dikelompokan dan dalam satu kelompok minimum 15 orang, maksimum 40 orang. Setelah ada 40 orang, kelompok ini dipecah supaya berkembangbiak. “Kita mengelompokkan anggota itu pada prinsipnya berdasarkan nilai dan wilayah tempat tinggal supaya mempermudah,” ujar Untari. Terkait lebih berkembangnya berbagai usaha kewirausahaan sangat penting juga memperoleh dukungan penguatan, utamanya tambahan modal usaha. Seperti dikatakan Direktur Pemasaran BPD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sulcha Prihasti, SE, MM. Melalui fasilitas Kredit Pundi misalnya, kata dia, para pelaku usaha dari kelompok perempuan ini bisa pula mendapat kesempatan untuk memperoleh kredit tersebut. Dengan demikian perempuan yang dulu bahkan hingga kini masih dianggap sebagai konco wingking bisa menjadi sosok yang mandiri dan tidak tergantung sepenuhnya kepada suami, tetapi sebaliknya bisa membantu perekonomian keluarga. Kian tumbuh kembangnya kewirausahaan dikelola perempuan di berbagai wilayah, Ibu Negara Ani Yudhoyono. Selain ada kredit usaha rakyat yang telah diluncurkan oleh Presiden Republik Indonesia pada 5 Nopember 2007 lalu, juga ada PUNDI, yaitu Kredit Pengembangan Usaha Mandiri yandiberikan oleh YayasanDamandiri. Program Kemitraan antara BankUmum dan Koperasi serta KRISTA, Kredit UsahaRumah Tangga dari Perum Pegadaian.

”Saya kira ini merupakan juga jawaban yang lainnya karena kaum perempuan bisa mendapatkan modal untuk memulai atau memperluas usahanya,” kata Ibu Ani, diungkapkan pada kesempatan melihat langsung pemanfaat berbagai kredit di Blok A Pasar Tanah Abang, Jakarta, beberapa waktu lalu. Karena dengan demikian, ia bisa menyampaikan kepada kaum perempuan di mana saja berada, jangan raguragu untuk mulai berusaha karena modal yang\ menjadi kendala utama selama ini sudah dapat diakses melalui lembaga keuangan Bank dan non Bank yang ada. Tentu saja semuanya itu harus melalui prosedur yang telah ditetapkan. ”Saya berharap kaum perempuan dan masyarakat luas dapat memanfaatkan fasilitas itu dengan sebaik-baiknya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Dan, kepada lembaga-lembaga keuangan, baik bank maupun non bank yang telah memberikan kredit kepada Koperasi Wanita, saya berharap dapat terus memberikan bimbingan, pendampingan serta asistensi finansial kepada mereka agar lebih tepat dan efisien dalam menggunakan modal sehingga terhindar dari penyimpangan dan tentu saja mencapai hasil yang optimal. Ia pun mengajak untuk meningkatkan produktifitas ekonomi perempuan Indonesia melalui program-program yang ada. ”Mari kita satukan visi dan misi kita untuk membangkitkan kaum perempuan Indonesia,” ajaknya.

Edisi 99/Gemari Tahun X/April 2009

0 komentar:

Poskan Komentar