Sabtu, 31 Juli 2010

AKSES Kawal UKM hingga Kemasan


Salah satu kelemahan produk makanan dan minuman (mamin) adalah masa kadaluwarsa. Cukup banyak kalangan UKM produk mamin yang menginginkan produknya bisa bertahan hingga waktu yang relatif lebih lama. Namun jika produsen mengerti teknik pengolahan dan bahan yang digunakan, paling tidak mereka bisa menyiasati tanpa harus menggunakan bahan pengawet.

Seperti dituturkan Ida Widyastuti, pimpinan Rumah Snack Mekarsari. Pengalamannya menghimpun, memproduksi dan memasarkan ratusan item produk mamin dari kalangan UKM yang dibinanya membuatnya faham bagaimana menjaga kualitas makanan hingga pengemasan, sehingga bisa bersaing di pasar.

“Saya tidak bosan-bosan mengawal kalangan UKM mulai produksi hingga pengemasan. Karena teknik pengolahan serta bahan yang dipakai sangat mempengaruhi produk makanan,” kata Ida.
Diakuinya, masing-masing produk makanan ringan memiliki masa kadaluwarsa yang berbeda. Ada yang tahan hingga berbulan-bulan, ada yang 2-3 minggu, dan ada yang hanya bertahan 1-2 hari saja.
Mekarsari juga menyediakan jenis makanan yang hanya tahan 1-2 hari. Namun, sistem yang dipakai konsinyasi. Artinya, kalau barang tersisa bisa dikembalikan kepada produsen.

“Nah, untuk makanan dengan bahan baku jamur atau tape yang hanya bertahan sebentar, yang terpenting bagaimana pengolahannya. Ini agar masa ketahanannya lebih lama dan rasa serta kerenyahannya tak berubah,” ungkap istri M Haris ini.

Ketika produk ke Mekarsari, biasanya Ida akan melihat jenis makanan yang akan dijual untuk disesuaikan dengan kemasan. Apapun produk yang ditawarkan, ia mengaku siap memasarkan. dio

Hampir semua ibu rumah tangga pernah membuat makanan ringan. Namun tujuan dia memasak suatu makanan tentu berbeda-beda.

Ada yang hanya sekadar untuk hidangan keluarga, sanak famili, hingga dikomersialkan dengan dijual. Kegiatan ibu-ibu berjualan makanan ringan untuk mengisi waktu atau menambah pendapatan keluarga ini saat ini tengah menjadi tren. Namun kendalanya, tak sedikit yang harus berbenturan dengan ketatnya persaingan, kurang mengertinya keinginan konsumen, hingga terbatasnya modal.

Namun di tangan Ida Widyastuti melalui usaha yang digelutinya bersama sang suami, M Haris, semua kendala itu bisa dikurangi. Memang, usaha yang diberinya nama Rumah Snack Mekarsari itu sepintas seperti toko oleh-oleh seperti kebanyakan. Namun di balik itu semua, upaya yang dilakukan keduanya sangat berarti bagi UKM produsen makanan ringan/camilan.

“Tujuan kita tak hanya sekadar menjual produk UKM, namun juga bagaimana bisa membantu mereka dalam hal menjaga kualitas, rasa, memenuhi keinginan konsumen, hingga jaminan terserap pasar. Dukungan ini yang penting,” jelas Ida ditemui di tokonya di kawasan Pondok Jati, Sidoarjo.
Tak hanya itu, ketika UKM yang menjadi binaannya kesulitan dalam permodalan karena tingginya permintaan pasar, ia dengan rela memberikan pinjaman untuk bantuan modal.

Baginya, memberdayakan masyarakat khususnya ibu-ibu lebih bermanfaat dibanding hanya sekadar memasarkan produknya. Ada dampak sosial yang lebih besar dengan merangkul mereka.

Jika biasanya toko yang hanya menjadi ‘titipan’ bagi produk UKM hanya menuntut barang yang berkualitas tanpa mau menyadari kendala dan keterbatasan UKM produsen, namun Mekarsari lebih memprioritaskan pada penguatan produksi di UKM yang menjadi mitranya.

“Saya harus aktif berkeliling nyambangi UKM satu per satu. Apalagi UKM pemula yang mulai mencoba memproduksi makanan, atau mereka yang baru bergabung. Saya harus intens datang ke mereka. Kita sharing, apa yang kurang dari produknya dan sebagainya, sampai menemukan produk yang layak jual,” ungkap Ida yang merintis usahanya sejak tahun 2001.

Bahkan selama produk yang dibuat UKM tersebut belum bisa menghasilkan, artinya belum layak untuk dijual di pasar, pihaknya rela mengganti semua biaya yang dikeluarkan UKM. Ia sadar, kendala utama yang banyak dihadapi UKM kecil adaah permodalan. Sementara untuk mengakses ke perbankan, selain cukup rumit, juga diperlukan jaminan.

Tak hanya itu, minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap UKM makanan ringan juga mendasarinya melakukan hal itu. Baginya, pemerintah terkesan tebang pilih terhadap UKM. Seperti lebih memprioritaskan UKM kerajinan, garmen dan sejenisnya. Selain banyak mendapat bantuan, mereka juga aktif dilibatkan dalam setiap pameran. “Padahal produsen makanan ringan ini pasarnya lebih potensial, selain banyak menyerap tenaga kerja,” jelasnya.

Namun, ia punya cara tersendiri untuk bantuan permodalan tersebut. Misalnya ketika ada order 10 ton makanan ringan, pihaknya hanya akan memberi bantuan modal kerja setiap tahap disesuaikan dengan kapasitas produksi UKM. “Misalnya 10 ton itu bisa dihasilkan selama satu bulan, kita akan beri modal setiap minggu dengan kapasitas 2,5 ton. Demikian seterusnya,” ujarnya.

Bantuan juga akan disesuaikan dengan jenis produk makanan yang dibuat. Misalnya jika UKM makanan berbahan hasil bumi, pihaknya yang menyiapkan keutuhan bahan baku tersebut. Yang terpenting bagi keduanya adalah masing-masing ada kepercayaan dan ikatan sosial yang erat. Dengan begitu, UKM juga enggan untuk menjual produknya ke pihak lain.

Tak heran, hingga kini lebih dari 500 UKM makanan ringan yang tersebar di Jatim, Jateng, Jabar, hingga Bali menjadi bagian dari kemitraannya. Pasalnya, sekitar 600 jenis makanan ringan tersedia di gerai Mekarsari, baik melalui penjualan secara ritel maupun partai. Setiap hari, ada saja UKM-UKM yang menawarkan produk karyanya.

Produk Mekarsari pun telah menyebar ke sebagian besar kota di Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, Papua, NTB. Bahkan beberapa konsumennya memasarkan ke luar negeri, seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, Brunai, bahkan Amerika.

“Pasar makanan ringan cukup potensial. Sebagian besar yang kita jual memang jenis camilan tradisional yang telah lama ada, seperti keripik pisang, emping mlinjo, dan sebagainya, namun bagaimana kita memberikan nilai lebih pada produk itu, baik rasa, kemasan, hingga jaringan distribusi,” ulas Ida yang memiliki gudang distribusi di Sidoarjo dan Bali ini.

Saking besarnya, bahkan Mekarsari telah menyiapkan beberapa jenis makanan ringan untuk diperkuat mulai hulu hingga hilir. Bahan baku pisang misalnya, saat ini ia telah mengelola budidaya pisang cukup luas di salah satu daerah di Jatim. Itu dilakukan selain untuk menjaga ketersediaan bahan baku, juga untuk kestabilan harga bahan baku. “Keripik pisang kita sudah produksi sendiri dengan kapasitas rata-rata 10 ton per minggu. Kita unggul di ketipisan dan rasa, sehingga permintaannya terus meningkat,” ungkapnya. dio

0 komentar:

Poskan Komentar