Sabtu, 17 Juli 2010

Laba Wangi Aromaterapi

Konsep ‘back to nature’ benar-benar menyihir minat konsumen terhadap produk-produk aromaterapi dan perawatan kecantikan tradisional. Kini, kebutuhan akan produk herbal ini terus bertumbuh Kenyataan ini membuka peluang pasar bagi pelaku usaha di bisnis ini.

Pelaku bisnis aromaterapi, Anita Trisusilowati dan Puspitarini Winanti, mengakui tingginya minat konsumen terhadap produk wewangian ini. Tentu kondisi ini tidak akan dilepas begitu saja. Bagi mereka, ini saat tepat untuk menawarkan sesuatu yang beda dan memberi nilai lebih pada produknya.

Karena itu, wajar jika saat ini cukup mudah mendapatkan produk aromaterapi dalam berbagai jenis, model dan aromanya. Mulai gerai-gerai di pusat perbelanjaan, salon-salon kecantikan hingga spa atau pusat perawatan tubuh, menyediakan produk-produk ini. Pembelinya pun terus meningkat dan berasal dari beragam segmen dan usia.

Erni Widyaningrum, misalnya. Wanita 40 tahun ini selalu mengisi udara di rumahnya dengan keharuman aromaterapi. Ia mengaku sangat menyukai aroma lavender ketika malam hari dan green tea, ketika siang atau sore hari.

“Dengan aromaterapi, seakan pikiran jadi tenang dan bisa melepas kepenatan setelah seharian bekerja, apalagi yang dari bahan alami. Suami dan anak-anak juga menyukai. Kami biasanya menggunakan jenis minyak yang dipanasi dengan lilin atau dengan listrik,” urai Erni, yang terus keranjingan memburu produk wewangian ini.
Berkah wewangian aromaterapi pula yang membuat Anita, 37, menggeluti usaha ini. Bisnis coba-coba sejak 2003 itu membawanya menjadi ahli peramu wewangian.

“Ada dua jenis aromaterapi yang ada di pasar, yakni dihirup dan dioles. Kalau dioles cara kerjanya melalui pembuluh kulit dan masuk ke syaraf. Intinya, efek aromaterapi mengubah pikiran dan perasaan seseorang menjadi lebih tenang, konsentrasi, bahkan menyembuhkan beragam penyakit,” urai Anita, ditemui di rumah sekaligus workshop-nya di kawasan Gubeng Kertajaya XIII Surabaya.

Menurutnya, jika dengan wewangian itu belum mampu membuat pikiran tenang, ia mempertanyakan bahan aromaterapi yang digunakan. Ini sangat penting, karena penggunaan bahan kimia justru bisa berdampak negatif. “Karena itu saya konsisten menggunakan bahan alami dari saripati tumbuh-tumbuhan atau bunga-bungaan,” ucapnya.

Produk aromaterapi merek Cakra kini sudah mencapai 50 item. Seperti lilin, minyak aromaterapi, beragam dupa, sabun rempah, lulur, serta produk perawatan kecantikan lainnya. Aromanya juga terus bertambah, di antaranya lavender, green tea, jasmine, cendana, romantic, ylang-ylang, kenanga.
Semula, ibu satu anak ini tidak menyangka bisnis aromaterapi yang dijalaninya bisa mendatangkan keuntungan menjanjikan. Padahal, ia merintis usaha ini hanya dengan modal Rp 5 juta-an.

Saat ini, konsumen tidak terbatas dari kalangan berumur, tetapi juga usia remaja. Umur yang berbeda memberikan dampak terhadap selera aromaterapi. “Remaja lebih suka yang fresh seperti floral, sedang mereka yang berumur tertarik dengan aroma wangi cukup menyengat,” jelas Anita.

Agar menjangkau seluruh kalangan, ia membuat variasi harga produk antara Rp 5.000 per item hingga Rp 200.000-300.000 per item. “Paket pernikahan lengkap juga ada,” kata Anita yang mengaku pernah menjadi mitra binaan beberapa perusahaan BUMN.

Dibantu sekitar 5 tenaga kerja, rata-rata ia mampu memproduksi 1.000 piece per item per bulan. Pasarnya 80 persen untuk lokal, seperti Jakarta, Palembang, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Bali, Lombok, Kupang, Jogjakarta dan Jatim. Untuk pasar ekspor, produknya telah menembus Australia, Jepang, Amerika Serikat, dan Kanada.

Meski terbilang telah dikenal, toh Anita terus menciptakan aroma-aroma baru. Untuk meyakini ramuannya bisa diterima pasar, ia pun memakai sendiri wewangian itu. “Tak jarang orang yang saya temui tertarik dengan aromanya. Di sinilah teknik marketing saya, selain aktif pameran,” tandasnya.
Pasar aromaterapi yang cukup potensial dan belum tergarap optimal, juga dimanfaatkan Puspitarini Winanti, warga Porong, Sidoarjo. Kesibukannya sebagai pengajar di salah satu SMP negeri di Gempol, Pasuruan, tak menyurutkan tekadnya merintis usaha pembuatan lilin aromaterapi.

“Di sekitar tempat tinggal saya, belum ada pelaku usaha di bidang ini. Karena itu saya coba-coba menekuni, dengan mengikuti pelatihan pembuatan aromaterapi,” jelas Puspita.

Karena terbilang baru, wanita 43 tahun ini rela mengerjakan sendiri pembuatan lilin aromaterapi yang ia buat dari bahan stearic acid dan glister. Tentu, ia harus pandai-pandai mengatur waktu sepulang kegiatannya mengajar.

Setelah membeli bahan lilin dan tempat gelas yang ia beli dari Surabaya, Puspita mulai meracik bahan. Sore mencetak, pagi harinya produk siap dipasarkan. “Paling sehari hanya mengerjakan sekitar 10 buah. Ini karena saya masih menjajaki pasar, selain modal harus merogoh kocek sendiri,” papar Puspita, yang mengaku hanya bermodalkan Rp 500.000 untuk mengawali usahanya.

Selama ini, pembeli selain dari teman-teman sesama pengajar, Puspita juga memanfaatkan media internet. Upayanya berhasil. Terbukti, sejumlah pembeli yang rata-rata kalangan mahasiswa rutin membeli produknya. Mereka datang dari Surabaya, Malang, serta Mojokerto.
Ia mengaku membidik celah pasar segmen menengah bawah. Maklum, harga yang dipatok cukup terjangkau di kisaran Rp 8.000-22.000 per buah. “Pasar aromaterapi masih cukup potensial, meski pemain di pasar ini cukup banyak. Tergantung inovasi masing-masing saja,” ungkap Puspita. dio

0 komentar:

Poskan Komentar