Jumat, 09 Juli 2010

Susi Pudjiastuti Juragan Pesawat dari Pangandaran (Bagian 4)





RATU LOBSTER ASIA

Sukses menjadi pemasok ikan, ia lalu mendirikan pabrik pengolahan ikan yang produknya berhasil menembus pasaran Jepang.

KENDALIKAN BISNIS DARI RUMAH

Hajjah Suwuh Lasminah dan Haji Ahmad Karlan (yang wafat pada tahun 2007) tak pernah mimpi muluk seperti Susi, putri sulungnya. Sewaktu sang putri memilih menjadi pedagang asongan bed cover, lalu wira-wiri mencari dan memasok ikan, orang tuanya menganggapnya sebagai hal biasa. “Kalau ia berhasil, Gusti Allah meridhai jerih payahnya. Saya, sebagai orang tua, ikut bersyukur. Susi juga harus bersyukur, dengan tetep eling lan waspada,” ucap Bu Suwuh.

Di waktu senggangnya di Pangandaran, Susi sering tampak duduk berlama-lama di dekat ibunya, walau keduanya tak terlihat ngobrol. Susi amat bersyukur memiliki ibu, yang bukan sekadar orang yang melahirkannya, tetapi juga tempat ia bisa mendapatkan masukan berarti,’ Eling atau ingat akan siapa dirinya, dari mana berasal, dan hendak ke mana berjalan. Waspada selalu akan banyak hal sepanjang hidup dilakoni.

Meski sudah sukses, Susi tetap eling pada kampung kelahirannya. “Kita harus bisa memberi arti dan nilai tambah bagi banyak orang di sini.” Meski sudah menjadi pengusaha kelas internasional, ia tetap menjadikan Pangandaran sebagai homebase semua bisnisnya. Sekadar head office, ia tempatkan di Jakarta. Tetapi, brand office PT ASI Pudjiastuti, yang membawahi beberapa perusahaan, tetap ia tempatkan di rumahnya sendiri di Pangandaran.

Di rumahnya yang nyaman itu, Susi juga biasa menghabiskan weekend-nya. Untuk liburan setelah lima hari kerja keras? Idealnya begitu. Tetapi, kenyataannya, Susi tak pernah bisa leyeh-leyeh, walau di halaman rumahnya sendiri. Tiap kali ‘mudik’ mingguan, jauh sebelum ia tiba, sudah banyak tamu (dari berbagai kalangan) yang menunggunya di kantin, yang juga berfungsi sebagai ruang tunggu tamu.

“Tak apa, karena semua tamu itu teman dan saudara saya,” ucap Susi, menanggapi para tamu yang tak henti-henti menunggunya. Sampai jauh malam, biasanya Susi melayani tamunya satu per satu, ataupun secara berkelompok. Yang juga mesti ia tanggapi adalah para pimpinan unit kerja perusahaannya di Pangandaran, yang ingin memberi laporan mingguan. Akibatnya, baru lepas tengah malam Susi bisa menikmati sentuhan tangan pria pemijat langganannya sejak lebih dari 20 tahun silam, sebelum kemudian meneguk wine dan… tidur.

Menurut Susi, aktivitas hari-harinya sudah cukup menguras keringat untuk mempertahankan tubuh langsingnya. “Saya suka jalan kaki,” ucap menggemar air putih saat bangun tidur dan wine saat hendak tidur ini. Minggu pagi, ketika penulis bertamu ke rumahnya misalnya, ia belum mandi ketika turun dari kamarnya. Bercelana pendek, seperti membiarkan betisnya yang bertato gambar lidah api menjulur-julur itu terlihat, sambil menikmati kue serabi favoritnya, ia memulai hari liburnya dengan jalan kaki berkeliling halaman rumahnya.

Sejujurnya, aktivitas itu bukan untuk relaks. Karena, tiap Minggu pagi, ia ‘sidak’ ke unit-unik kerja yang ada di halaman rumahnya. Meninjau dapur dan kantin, membaca jadwal kerja harian para pekerja di halaman rumahnya, atau menengok bengkel pembuatan perahu, dan terakhir masuk pabrik. Ya, pabrik pengolahan ikan miliknya itu memang dibangun Susi di pekarangan rumahnya.

JODOH KETIGA

Sukses di satu bidang, Susi merasa gagal di bidang lain. “Kehidupan pribadi saya tidak sehat untuk diomongin, apalagi didengar orang lain,” ungkapnya. Salah satunya adalah kebiasaannya merokok yang ia sadari sangat tidak sehat.

Dalam hal asmara, Susi tak ragu bercerita bahwa ia telah menikah sebanyak tiga kali. “Dari tiap suami, saya masing-masing mendapat seorang anak,” katanya. Susi tak menyebut siapa pria pertama dan kedua dalam hidupnya. Yang pasti, cinta pertamanya, dengan teman yang disebutnya sebagai ‘sekampung’ itu, datang amat cepat, saat ia masih gadis ting-ting berusia 20-an tahun.

Pernikahan dengan teman sepermainannya pada tahun 1983 itu tak bertahan lama. Perkawinan itu memberinya Panji Hilmansyah, putra sulung, yang kini telah menikah. Panji yang baru saja pulang dari Amerika Serikat untuk mendalami flight engineering dan telah memberinya seorang cucu laki-laki berusia 5 tahun, Arman Hilmansyah. Sang cucu ini selalu menggelendoti Susi ke mana pun ia pergi dan menyapanya dengan panggilan Uti (penggalan dari kata Mbah Puteri).

Jodoh kedua Susi adalah pria asal Swiss. Lagi-lagi Susi tak hendak bercerita, siapa dia. Yang pasti, “Pernikahan itu juga tak berlangsung lama,” kata Susi, tertawa. Dari pernikahan itu, Susi dianugerahi Nadine Pascale, gadis remaja yang kini tengah belajar bahasa di Swiss.

Sekitar sebelas tahun silam, di suatu sore menjelang malam, Susi ketemu Christian von Strowberg di Pangandaran. Persisnya di restoran seafood miliknya. “Waktu itu saya datang sebagai turis, dalam rangka liburan Sabtu-Minggu,” kenang Christian, yang asal Jerman dan amat fasih berbahasa Indonesia. Maklum, saat itu ia sudah cukup lama tinggal di Bandung. Di kota itu, ia yang seorang engineer dan pilot, bekerja di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN).

Entah mengapa, keduanya langsung nyambung. Mereka ngobrol apa saja, dari soal batik (Christian jatuh cinta berat pada kain batik, hampir tiap hari ia mengenakan kemeja berbahan kain batik), soal kerjanya di IPTN, hingga soal ikan. Christian pun jatuh cinta. “Susi itu smart, pikiran-pikirannya dalam bisnis jauh ke depan. Saya suka, plus karena sexy and exotic,” ungkap Christian, sambil menyungging senyum. Takut kehilangan momen penting, minggu itu juga ia melamar Susi. Ternyata, ia tak bertepuk sebelah tangan. Selang sebulan kemudian, mereka pun menikah di Pangandaran.

Susi berharap Christian adalah jodoh terakhir yang dikirim Tuhan untuknya. “Ini adalah pernikahan saya paling lama, sudah lebih sepuluh tahun. Moga-moga Gusti Allah meridhai, yang ini bisa bertahan, ya…!” ungkap Susi, dengan mata berbinar. Pernikahan yang membuahkan seorang putra, Alvi Xavier (9), pelajar SD kelas 3 yang fasih berbahasa Indonesia dan Inggris. Satu hal… Christian pula yang mewujudkan mimpi kecil Susi akan montor mabur.

Bersambung

0 komentar:

Poskan Komentar