Sabtu, 31 Juli 2010

Empat Sekolah yang Bawa Berkah


Himayanti, Pengelola Jamur Crezz Mario
Surabaya
-Tepat pukul 09.00 WIB, Himayanti bergegas mengemasi wadah tempat jamur crispy yang telah ia kemas kantong plastik kecil-kecil. Pagi itu akan menuju beberapa sekolah dasar (SD) tak jauh dari rumahnya di kawasan Wiyung, Surabaya.

Memang, setiap hari, Yanti, panggilan akrab ibu dua orang anak itu harus menitipkan jamur crispy olahannya ke sekolah-sekolah. Selain itu, ia juga memiliki dua gerobak yang siap dijalankan keliling oleh dua orang pekerjanya.

Anak sekolah dianggapnya masih menjadi pasar potensial bagi produk makanan ringan seperti jamur crispy. Oleh karenanya, segmen pasar itu pula yang saat ini menjadi bidikan Yanti untuk memasarkan produknya.

Baginya, dipilihnya jamur crispy bukan karena latah melihat booming makanan ringan berbahan jamur yang kini banyak diminati konsumen. Tersedianya pasokan jamur tiram sebagai bahan baku makanan ringan itu serta meningkatnya permintaan pada produk itu menjadi salah satu alasannya.

“Namun tentunya agar produk kita mendapat tempat di tengah persaingan yang cukup ketat, perlu kreativitas sehingga beda dengan yang sudah ada,” papar Yanti.
Ikhwal digelutinya usaha pembuatan makanan berbahan jamur itu sendiri, diakuinya dari hasil coba-coba yang dilakukannya. Setahun lalu, ia mencoba membeli satu bungkus jamur tiram yang mulai banyak dijual di pasar.

“Tak ingin hanya berupa jamur goreng atau keripik jamur yang itu-itu saja, saya mencobanya dengan jamur crispy. Ternyata keluarga banyak yang suka,” papar wanita 36 tahun ini.
Modal ‘dukungan’ keluarga mendasarinya untuk mencoba menjual produk olahannya. Memang, awalnya bukan langsung ke pasar luar, namun masih dikenalkan ke tetangga sekitar. Ternyata mereka cukup cocok dengan olahannya. Hal itu pula yang membuatnya bersemangat untuk menggeluti usaha jamur crispy.
Ini karena jamur crispy olahannya sengaja dibuat dengan beragam rasa, mulai keju, pizza, pedas, dan sebagainya.

Sebetulnya, usaha makanan olahan bukan kali ini saja digeluti istri Oman Hermawan ini. Sebelumnya ia pernah mengelola usaha atau menjadi mitra waralaba penjualan burger dari salah satu merek.

“Namun dalam perjalanan waktu ternyata pembeli burger lambat laun kian menurun. Saya harus subsidi hanya untuk membayar gaji pekerja untuk berjualan keliling. Oleh karena itu, melihat respon konsumen pada jamur crispy ini yang bagus, saya beralih ke sini,” ulas Yanti.

Awalnya, ia tak langsung mengganti usaha burger ke jamur crispy. Yanti tetap menjalankan bisnis burger, sementara jamur crispy ia titipkan ke salah satu kantin SD tak jauh dari rumahnya. Ternyata dari 30 bungkus yang ia titipkan, hanya menyisakan 1-2 bungkus. Hal itu membuatnya optimistis produknya diterima.

“Sekarang sudah ada empat SD yang rutin saya titipi produk saya. Dan rata-rata hampir semuanya terjual habis. Baru setelah melihat penjualan di sekolah bagus, saya tak jualan burger lagi, tapi menggantinya dengan jamur crispy,” ucap Yanti yang mengaku modal yang ia jalankan murni dari tabungan keluarga.

Tak mau hanya satu pilihan produk, Yanti menambah produknya dengan tahu crispy. Tahu yang dipotong mirip dadu kecil-kecil itu juga ia kemas dalam kantong plasik kecil. Produk ini pun laku keras. Soal harga, ia sesuaikan dengan segmen pasar anak sekolah serta kawasan yang biasa menjadi sasaran gerobaknya. Satu kantong plastik hanya Rp 2.000-4.000. Cukup murah memang.

Meski masih skala kecil, namun usaha yang dijalankan sejak tahun lalu itu telah mampu mampu menambah penghasilan keluarga. Paling tidak bisa dilihat dari omzet penjualannya yang rata-rata di kisaran Rp 400.000-500.000 per hari. Dalam seminggu, tak kurang dari 30 kilogram jamur tiram serta 200 biji tahu ia habiskan.

Puaskah Yanti dengan apa yang sudah ia jalankan? Ternyata tidak. Ada banyak harapan yang ia gantungkan pada usahanya. Selain ingin agar tampilan produk maupun kemasan jamur crispynya makin menarik, juga ketahanannya.

“Karena makanan seperti ini sifatnya tak tahan lama, saya terus belajar bagaimana masa kadaluwarsanya bisa lebih lama tanpa bahan pengawet. Ini karena ada beberapa toko atau swalayan yang meminta,” tandasnya.

0 komentar:

Poskan Komentar