Jumat, 09 Juli 2010

Susi Pudjiastuti Juragan Pesawat dari Pangandaran (Bagian 3)





RATU LOBSTER ASIA

Sukses menjadi pemasok ikan, ia lalu mendirikan pabrik pengolahan ikan yang produknya berhasil menembus pasaran Jepang.

Agustus 2005, femina yang sedang tugas ke Jepang, menyempatkan diri jalan-jalan ke pasar ikan Tsukiji yang terletak di pinggiran Tokyo. Di pasar ikan modern dan terbesar di Jepang itu, dipasarkan beragam produk ikan dalam dus kotak berlabel Susi Brand. Hati jadi ikut membuncah bangga, ketika membaca kalimat di tepi dus-dus itu yang berbunyi: PT ASI Pudjiastuti Marine Product – Pangandaran, Indonesia.

Nama Susi Pudjiastuti juga disebut seorang pemilik resto di Pantai Sai Kung, Hong Kong yang dipenuhi resto seafood. Berbagai jenis ikan dan udang, juga lobster hidup kualitas nomor satu yang ada setelah diselisik, ujung-ujungnya ada nama Susi sebagai pemasok.

FILOSOFI PALUGADA
“Modal utama saya dalam bekerja itu adalah rasa suka,” ungkap Susi, suatu kali. Ia sekadar memaparkan pengalamannya, bahwa rasa suka atau hobi itulah yang membuatnya ajek menjadi bakul ikan sejak 1983. Rasa suka itu juga membuat isi kepalanya lebih jernih untuk memprediksi kecenderungan pasar dan mencari produk berkualitas baik untuk memenuhi pesanan dan permintaan. Kemudian, dari situlah ia mendapatkan untung, sebuah bayaran dari rasa cinta yang ia wujudkan dalam karya.

“Tetapi, bisnis itu sesuatu yang tidak pasti.” Susi sudah menyadari itu sejak remaja. Sebagai bakul ikan misalnya, kadang-kadang produk hasil laut yang dibelinya tak laku saat dijajakan. Tak jarang pula ketika ada pesanan, ia tak berhasil memperoleh apa yang dipesan itu. “Jadi, kita harus selalu waspada dan hati-hati dalam melihat permintaan dan pasokan agar tak rugi waktu, tenaga, dan uang,” lanjutnya.

Saat mengawali bisnis ikannya, Susi memang bukan satu-satunya bakul ikan di Pangandaran. Ada banyak wanita dan pria yang berprofesi sama: ngumpul bareng di tempat pelelangan ikan, menebak dan membeli ikan-ikan pilihan, lalu berebut mengejar pembeli atau menjualnya lagi ke pasar. “Kalaulah harus rebutan seperti itu, pastilah saya kalah. Apalagi, mereka kan punya jam terbang lebih panjang dari saya.”

“Saya cuma mengikuti naluri dan feeling,” katanya. Sebagai anak pantai misalnya, ia tahu begitu banyak jenis hasil laut yang berhasil didaratkan nelayan tiap hari.

“Sejak semula saya hanya memilih jenis ikan-ikan tertentu, yang saya perkirakan akan laku dan memberi keuntungan lebih besar dari jenis lainnya.” Ikan-ikan jenis tertentu (seperti kakap, ekor kuning, bawal, kerapu, atau marlin) dan udang (khususnya lobster) merupakan produk laut yang jadi ‘spesialis’ Susi sejak awal. Apalagi, setelah ia melebarkan sayap, mencari dan membuka pasar baru yang lebih luas dari sekadar Pangandaran dan Cilacap.

Hobinya mampir tiap sore ke pinggir-pinggir sawah di kawasan Cikampek, untuk ‘rendezvous’ dengan para penangkap kodok ijo, juga merupakan salah satu usahanya untuk menjadi pemasok ikan yang andal. Seperti istilah palugada (apa lu mau, gua ada) yang biasa dijadikan pegangan para pebisnis, Susi sedapat mungkin memenuhi segala permintaan pemesan akan sebuah produk. Yang terpenting, ia tetap memegang prinsip, “Cari dan siapkan barang yang bagus, maka pembeli akan senang. Keuntungannya, harga jual bisa lebih bagus!” ungkapnya. Selain frog legs, Susi juga memasok bird nest alias sarang burung walet yang diambilnya dari para pemanen di gua-gua laut yang banyak terdapat di pesisir pantai selatan Pulau Jawa.

Untuk semua bisnis kesukaannya itu, Susi jungkir-balik lebih dari 12 tahun. Ia tak bosan-bosan menjalin hubungan baik dengan nelayan di berbagai daerah. Ia juga turun sendiri mencari pasokan dan mengantarnya sendiri ke pembeli, sementara pasar-pasar baru terus ia buka dan upayakan. Sebuah pemikiran ke depan yang mungkin tak dimiliki generasi bakul ikan seangkatannya di Pangandaran.

SUSI BRAND
Satu jenis produk laut yang sejak awal kariernya selalu diburu Susi adalah lobster. “Permintaan pasar besar sekali, tetapi hasil tangkapan nelayan relatif sedikit,” ungkap Susi. Padahal, perairan Indonesia amat dikenal dunia sebagai gudangnya udang besar yang biasa hidup di perairan pantai berkarang. Namun, karena habitatnya yang khas itu, cuma sedikit saja lobster yang umumnya tersangkut jaring nelayan yang cenderung berkonsentrasi pada jenis-jenis ikan pelagis atau ikan laut permukaan. Selain itu, lobster juga jarang mau tergoda makan umpan nelayan pancing yang biasa menyasar jenis-jenis ikan demersal (laut dalam).

Bagi Susi, ini sebuah peluang bisnis yang amat menantang. Susi pun berkelana dari satu tempat pendaratan ikan ke tempat pendaratan ikan lainnya. Nyaris semua pantai sepi di pesisir selatan Pulau Jawa ia telusuri, mengenal dari dekat para nelayannya, sambil memesan lobster. Tentu, Susi siap membelinya dengan harga yang bagus, dengan catatan: lobster itu harus utuh anggota tubuhnya.

Lobster-lobster itu juga mesti ditangkap secara alamiah, tidak menggunakan cara yang merusak lingkungan, misalnya dengan membongkar karang atau menggunakan pestisida. “Saya tidak menerima lobster yang sedang bertelur,” lanjutnya. Kalau tak sengaja mendapatkan lobster yang sedang masa bertelur, ia meminta segera cepat dikembalikan ke laut, betapapun besarnya (yang secara ekonomi membuatnya rugi). Lobster-lobster yang didapatnya itu, kian menapakkan dirinya sebagai pemasok hasil laut jempolan.

Sukses itu tak membuat Susi diam di tempat. Diversifikasi usaha terus dilakukan. Ia, misalnya, tak pernah melupakan Pangandaran sebagai kawasan wisata yang potensial untuk berbisnis. Untuk itu, tahun 1989 Susi membuka restoran Hilmans di dekat pantai, dengan spesialisasi menu ikan segar. Calon pembeli bisa memilih sendiri ikan segar yang diminatinya, lalu para koki mengolahnya menjadi hidangan pilihan.

“Hidup kan terus bergerak. Puncak-puncak pencapaian harus terus diciptakan tiap hari,” ungkap Susi. Entah, dari mana ia pungut teori kehidupan itu. Tetapi, Susi memang kian jauh melangkah. Tak cuma pedagang besar ataupun resto-resto di Jakarta yang menunggu pasokan ikan darinya tiap malam, tetapi juga pabrik-pabrik pengolahan ikan untuk ekspor. Konon, untuk lobster, Susi disebut-sebut sebagai pemasok utama yang menguasai 70% market share di Jakarta.

“Saya amat suka belajar langsung di lapangan,” katanya. Dari pabrik-pabrik ikan itu, ia jadi belajar mengenal lebih dekat bisnis hasil laut. Makin kenal banyak orang, makin banyak ilmu yang ia timba. Sampai suatu saat ia punya pemikiran sendiri. “Saya harus bisa mengekspor sendiri ikan-ikan yang saya peroleh dari nelayan Indonesia. Untuk itu, saya mesti punya pabrik pengolahan sendiri!” kenang Susi, kembali bermimpi.

Kali ini, Susi tak harus berlama-lama mimpi. Tahun 1996, ia mulai merintis pendirian pabrik pengolahan ikan sendiri, di pekarangan samping rumahnya yang berada di depan terminal bus Pangandaran. Hasilnya menakjubkan! Tahun itu Susi mencatatkan diri sebagai bakul ikan Indonesia yang berhasil mengekspor lobster beku ke Jepang dengan label Susi Brand.

Ratusan tenaga kerja lokal diserap pabriknya untuk menyiangi ikan. Limbah yang berupa tulang dan isi perut ikan dipisahkan, dicacah atau digiling, untuk pakan itik di kebunnya, sementara bagian dagingnya dibuat filet atau produk ikutannya (seperti bakso, dan lainnya). Cuma dalam tempo setahun setelah ia mengekspor lobster beku, ragam jenis seafood beku dari pabrik Pangandaran itu diekspor ke Jepang dengan label Susi Brand. Seperti yang femina saksikan di pasar ikan Tsukiji, Tokyo.

Menembus pasar Jepang memang sebuah prestasi. Karena, Jepang merupakan pangsa pasar ikan segar terbesar di Asia, yang menerapkan aturan ketat untuk produk yang masuk ke negaranya. “Pengolahan ikan di pabrik saya dikerjakan sesuai standar internasional, termasuk tidak memakai bahan pengawet kimia,” tutur Susi. Selain itu, dia bisa menyediakan ikan segar yang ‘usianya’ kurang dari 24 jam dari penangkapan.

Bersambung

0 komentar:

Poskan Komentar