Sabtu, 31 Juli 2010

Djadoel Corner ala Dyah Rahmalita

Menggeluti Usaha Pelipur Kenangan
Dyah Rahmalita menemukan ‘mainan’ baru. Lama berkecimpung di glass painting, ia kini melirik usaha kudapan dan mainan zaman dulu (jadul). Ini bukan banting setir dari glass painting. Misinya ada dua, yakni mencoba berinovasi dan ‘menjual’ nostalgia.

Usaha ini bernama Djadoel Corner. Di sana dijual kudapan dan mainan kuno alias angkatan toea. Nah, ada kudapan macam opak, biskuit warna-warni, permen cokelat merek Jago, permen Sarsaparilla, kuwe sagu Cap Gelatik, dan kuwe jahe. Untuk jenis mainan, ada wayang, truk kayu, utuk-utuk, umbul, neker (kelereng), gasing, bedhil-bedhilan, ular tangga, bongkar pasang, atau yoyo. Termasuk kaleng krupuk dan toples kuno yang dihiasi lukisan lucu sehingga terkesan unik.

Ikhwal usaha ini tiga tahun lalu. Ketika itu Lita -demikian ia akrab disapa- berjalan-jalan dalam gelaran Malang Kembali Festival Tempo Doelole. Stan-stan yang biasa mengisi acara itu, ujarnya, memang menawarkan makanan atau pernik tempo dulu, tapi dicampur dengan makanan atau pernik modern. “Tidak ada stan yang secara khusus menjual makanan atau mainan kuno,” kisahnya.

Alasan lainnya, stan glass painting Lita dalam gelaran itu jarang dilirik pembeli. Glass painting, yang memang menyasar kalangan menengah ke atas itu tak banyak laku. “Banyak yang cuma tanya-tanya,” ujarnya.

Akhirnya, tebersitlah keinginan menjual aneka penganan dan mainan jadul dalam event Malang Tempo Doeloe tahun berikutnya. Lita yang hobi traveling dan mengumpulkan barang antik itu blusukan mencari panganan ‘masa kecil’ itu ke pabrik pembuatannya dan pasar tradisional di Bandung, Jakarta, Semarang, dan sekitar Malang.

Permen Sarsaprilla misalnya, ia dapatkan dari pabrik tua di Pasuruan. Cokelat Tulip didapatnya dari Semarang. Ketika berburu ke Jogjakarta, ia malah dikejutkan dengan temuannya, berupa mainan umbulan (kartu) bergambar serial wayang. Kartu yang masih berbentuk lembaran itu memang ndeso dan unik. Kertasnya buram, dan ditulis dengan ejaan lama. Karena sangat langka, Lita membungkusnya dengan karton dan menyimpannya untuk diri sendiri.

Hobi blusukan ini,membuat usaha ini cepat terwujud. Responsnya ternyata sangat bagus. “Usai acara Malang Kembali, banyak yang menelepon di mana letak toko saya. Lha wong, belum punya toko, akhirnya sementara jualan di rumah,” tukas perempuan yang baru-baru ini menerima order kaleng krupuk kuno untuk suvenir pernikahan.

Pembeli dagangan Lita, sebagian besar untuk oleh-oleh. Tapi tak jarang dagangannya juga menjadi media ‘nostalgia’ orangtua untuk dibagikan kepada anaknya. Inilah yang disadari Lita sebagai salah satu keunggulan jualannya. Sebagai pecinta barang lawas, ia mahfum, teknologi telah membuat anak masa kini menyingkir dari mainan tradisional. “Setidaknya orangtua bisa menceritakan dolanannya atau jajanannya zaman dulu,” jelasnya.

Penganan dan mainan itu dijual dengan harga variatif tapi cukup murah. Yakni mulai dari Rp 1.000 hingga Rp 5.000. Yang paling mahal adalah wadah kerupuk yang telah disaput dengan aneka lukisan dan diisi kue. Harganya bisa sampai Rp 50.000.nesi/sas

0 komentar:

Poskan Komentar