Jumat, 09 Juli 2010

Susi Pudjiastuti Juragan Pesawat dari Pangandaran (Bagian 5)





“WELCOME TO MY PARADISE!”

Keharusan untuk menyediakan ikan segar membuat Susi terpikir untuk membeli pesawat terbang. Mengapa pula ia membuka sekolah pilot sendiri?

Awal Juni tahun silam, Susi terbang ke Paris. Bukan shopping parfum dan busana couture di pusat mode dunia itu, tetapi ke Le Bourget untuk ngeborong pesawat yang tengah dipajang di Paris Air Show itu. Tak tanggung-tanggung, di ajang pameran kedirgantaraan tahunan paling bergengsi di dunia itu, Susi memesan 30 pesawat! Tak heran bila otoritas Paris Air Show merilis berita tertanggal 16 Juni 2009 sebagai berikut: “Indonesia’s Susi Air Takes 30 Grand Caravan and an Avanti II” Susi Air yang dimaksud adalah perusahaan penerbangan milik Susi Pudjiastuti, si anak pantai Pangandaran itu.

BERPACU DENGAN WAKTU

Banyak pejabat tinggi perbankan nasional menjuluki Susi Pudjiastuti sebagai ‘Si Gila dari Pangandaran’. “Julukan itu nempel hampir empat tahun…,” kenang Susi. Ini semua terkait mimpinya punya montor mabur, yang menurut Christian: “Why not?”

Support yang besar dari suaminya itu yang membuat Susi pada tahun 1999 menyusun proposal pinjaman dana ke bank. Berbagai bank, nasional ataupun swasta asing, ia datangi. Tetapi, boro-boro dapat pinjaman, “Eh… saya malah dianggap, nggak waras…!” ucap Susi, lagi-lagi sambil ngikik.

Susi sebenarnya bisa mengerti bila para petinggi bank menganggapnya gila. “Lha cah wedhok (anak perempuan-Red), cuma lulusan SMP, kok, ya, bisa-bisanya ngajuken kredit buat beli pesawat?” kenang Susi, tentang rasa heran para bankir yang ditemuinya. Tambah melongo lagi mereka, ketika membaca alasan Susi ingin membeli pesawat: untuk ngangkut ikan! “Lha, apa nggak gila, itu,” imbuhnya.

Ilham punya pesawat terbang datang dari dari obrolannya dengan Christian di awal perkenalan mereka tahun 1997. Saat itu, sebagai pengusaha produk hasil laut, Susi sudah menembus Asia, Jepang khususnya, dan mulai menjajaki pasar Eropa dan USA.

Susi menyadari satu hal yang paling penting dalam bisnis ini. “Tingkat kesegaran ikan amat penting dalam bisnis marine product. Makin segar ikan diterima pembeli, makin mahal harganya.” Masalahnya, “My paradise, Indonesia, amat luas. Produk bagus tak cuma dari pantai-pantai di selatan Jawa, tetapi juga harus saya ambil dari Aceh hingga Papua. Membawa tangkapan segar dari Nairobi ataupun Simeuleu ke Pangandaran saja, sudah problem. Bagaimana bisa tetap segar saat tiba di Jepang, Eropa atau Amerika?”

Susi harus berpacu dengan waktu. Tak mungkin cuma mengandalkan truk berpendingin, untuk pengepulan sekalipun. Sementara di luar sana, “Orang akan memberi harga lebih tinggi untuk ikan segar yang sampai ke tangan mereka, kurang dari sehari setelah ikan-ikan itu diangkat dari jaring nelayan,” tegas Susi. Bila waktu tempuh bisa diatasi, ini tak cuma baik bagi Susi, “Tapi juga baik bagi nelayan, karena saya bisa membeli ikan-ikan itu dengan harga lebih bagus.”

Keharusan berpacu dengan waktu inilah yang membuat Susi me­rasa harus punya pesawat. “Pesawat ringan, kecil saja, karena di pelosok-pelosok Indonesia tak ada runaway panjang. Yang ada cuma airstrip pendek,” katanya. Tapi, ya, itu tadi, Susi malah dianggap gila! Baru setelah 4 tahun bolak-balik mengajukan proposal, ada pengusaha nasional (Susi tak mau menyebut nama) yang memahami ide gilanya, dan mengucurkan dana. Didukung Christian yang paham seluk-beluk kedirgantaraan, mimpi montor mabur-nya terwujud berupa sebuah Cessna Caravan buatan USA, seharga Rp20 miliar.

SUSI, WHERE ARE YOU...?

Sebagaimana mimpinya, Cessna berkapasitas 12 seats itu ia gunakan untuk ngangkut ikan dan lobster tangkapan nelayan di berbagai pantai Indonesia. Di Pangandaran, marine product itu dipilah, disiangi, dikemas rapi, dan diterbangkan ke pasar Jakarta dan lainnya. Christian duduk di kursi pilot, “Saya di sebelahnya sebagai… stewardess,” kenang Susi, di minggu-minggu pertama punya montor mabur.

Tanggal 26 Desember 2004, gempa tektonik mengguncang perairan di ujung barat laut Sumatra, menimbulkan gelombang tsunami dahsyat. Bantuan kemanusiaan mengalir dari berbagai penjuru dunia. Tapi, bantuan udara menumpuk di Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh. Puing-puing kerusakan menghambat arus bantuan. Banyak kawasan terisolasi. Kotak obat, makanan, bahkan para relawan SAR pun sulit menembus lokasi.

Saat itu, cuma sekitar 2 hari setelah tsunami, terbetik berita: ”Mbak Susi dari Pangandaran berhasil mendarat di Meulaboh,” lapor seorang relawan lewat komunikasi radio dari sebuah posko bencana.

Belakangan diketahui, yang dimaksud adalah Susi Pudjiastuti yang dengan suaminya berhasil mendaratkan Cessna-nya, membawa bantuan obat-obatan dan makanan. “Sumbangan titipan dari banyak teman,” ungkap Susi. Sejak itu namanya identik dengan kiriman bantuan ‘pertama’ di berbagai daerah yang terkena gempa.

Ada cerita lucu yang selalu dikenang Susi. Suatu siang di Bandara Iskandar Muda, Susi sedang istirahat sejenak setelah kembali mengirim bantuan ke sebuah tempat di Nanggroe Aceh Darussalam itu. Ketika itu, ia melihat seorang pria relawan dari Eropa wara-wiri di apron bandara, celingukan memandangi runway, seraya berkali-kali berucap, “Susi…! Susi, where are you…?”

Merasa namanya disebut-sebut, Susi datang menghampiri si pria sambil bilang, “Anda mencari Susi? Saya ini, Susi…!” katanya.

Tetapi, si pria geleng-geleng kepala seraya berucap, “Maaf, bukan. Bukan kamu. Saya mencari Susi… Susi Air. Di mana perwakilan kantornya di sini?”

Susi ngikik. “Tidak ada Susi Air, Sir…! Apalagi kantornya...! Yang ada cuma Susi, ya, saya ini…!”

Si pria terperangah, terlebih saat menyebut bahwa dirinya punya sebuah Cessna. Ia lalu tertawa. “Oke, oke…! Kamu, Susi… punya Cessna? Good…! Bisa bantu drop logistik kami, bantuan ke…?”

“Boleh saja, nanti… setelah pesawat saya itu balik lagi ke bandara ini. Tetapi, Anda harus ganti minyaknya, ya….”

“Ya, ya… tentu…! Kami bayar, kami sewa!”

Susi tak mengungkap lebih jauh, berapa banyak uang sewa yang ia terima saat itu. Yang pasti, inilah asal-mulanya ia menjadikan pesawatnya sebagai pesawat sewaan. Dari satu orang, berita menyebar ke mana-mana. Secara getok-tular pesawat Cessna-nya kerap disewa pihak-pihak internasional yang membantu pemulihan NAD.

Istilah Susi Air pun lahir dari para penyewa awal itu. “Tadinya, i­ngin diberi brand yang keren, nama-nama burung yang gagah, gitu…! Tapi, karena orang-orang itu selalu mencari Susi… Air… ya, sudah, saya kasih saja nama Susi Air,” kenang Susi, tertawa lepas.


Bersambung

0 komentar:

Poskan Komentar