Sabtu, 31 Juli 2010

Laba dari Aksesori Kayu


Puluhan tahun lalu, pemanfaatan bahan baku kayu hanya terbatas untuk produk mebel, bahan bangunan, perlengkapan kebutuhan rumahtangga, hingga kerajinan. Kini dalam perkembangannya, kayu mulai dilirik sebagai pernik-pernik aksesori yang cantik.

Mengenakan kalung terbuat dari emas, perak, logam, kaca atau batu-batuan, bukan hal yang asing lagi. Tapi, kalau aksesori ini terbuat dari bahan kayu, tentu belum banyak yang memiliki.
“Ketika melihat produk yang cukup unik, pasti semua akan tertarik dan ingin memilikinya. Itu pula yang saya alami saat melihat produk berbahan kayu dari internet,” ujar Dewi Setyaningtyas, karyawati salah satu distributor makanan ringan di Surabaya, Rabu (19/5).

Begitu mengetahui kalung berbahan kayu, Dewi mengaku, langsung mencari distributor produk aksesori unik itu dan memesan beberapa piece. “Ternyata memang benar-benar beda. Unik, namun terlihat elegan. Saya yakin semua pengoleksi kalung dan aksesori pasti akan tertarik,” ujar ibu satu anak ini.
Ia sengaja membeli beberapa piece kalung kayu, dengan harapan bisa memadu-madankan kalung yang dibeli dengan busana yang dikenakannya. Kayu, menurut Dewi, lebih fleksibel dilekatkan ke busana apa saja, apalagi baju batik yang saat ini tren.

Tertarik mengoleksi kalung berbahan kayu seperti Dewi? Tak sulit menemukannya, karena di Surabaya bisa ditemui pembuatnya. Dayu Mayasari, sang pembuat kalung ini mengaku, kalung kayu memiliki keunggulan pada tampilan seratnya yang menarik, bisa dibentuk dengan model apa saja, selain juga cocok dikombinasikan dengan bahan-bahan yang lain.

“Seperti kalung ini, yang saya kombinasikan dengan kain flanel, kain satin, manik-manik dan lainnya,” kata Dayu, yang mengaku menggeluti usahanya sejak Januari 2010.

Meski tergolong baru, ternyata animo konsumen terhadap produknya dengan merek Tropica, cukup besar. Terbukti, sudah ada 5 distributor yang secara rutin menyerap produknya yang tersebar di beberapa daerah, di antaranya Surabaya, Malang, Makasar, hingga Bau-Bau Sulawesi Tenggara.

Selain kombinasi kain yang menarik, kalung buatan Dayu banyak diminati konsumen karena memiliki desain beda dengan kalung kayu yang pernah ada. Jika kalung kayu pada umumnya memiliki motif tradisional, buatan Dayu cenderung lebih modern dan elegan dengan balutan politur.

Dengan harga sangat terjangkau di kisaran Rp 1.500-25.000 per piece, rata-rata Dayu mampu menjual hingga 100 piece setiap pekan. “Kami cukup kewalahan memenuhi permintaan pasar. Karenanya saya dibantu 3-4 orang untuk produksi dan dua orang tenaga pemasaran,” ucap wanita 24 tahun ini yang menyebut rata-rata omzet penjualannya sekitar Rp 4-5 juta per bulan.

Agar konsumennya tak bosan, Dayu mengaku aktif menciptakan desain baru. Untuk yang satu ini, paling tidak ada tiga desain baru setiap dua hari. Desain baru itu bisa saja diproduksi dalam beberapa piece, atau hanya ada 1-2 piece saja.

“Sebagai UKM pemula, kreativitas memang dibutuhkan. Ini yang menjadi kunci mengapa dalam waktu singkat produk saya diminati konsumen,” papar wanita lajang yang mengaku menjalankan usaha atas modal sendiri.

Membatik di Kayu
Lain lagi, kerajinan yang ditekuni Arif Anita Kusumawati. Masih menggunakan kayu, namun ia mencoba berkreasi dengan membatik di atasnya. Kerajinan kayu batik bikinan Anita dengan label Kusuma Art itu, kini laku sampai ke Jepang dan Swedia.

Setiap tahunnya, ia rutin mengekspor ke Jepang, Malaysia dan Singapura. Sebenarnya, menurut Anita, hobi awal yang ia tekuni justru membatik di atas kain.

“Namun kalau jualan batik saja rasanya sudah biasa. Saya coba di atas kerajinan berbahan kayu. Hasilnya unik. Penjualannya bagus. Sistem penjualannya, saya kerja sama dengan hotel-hotel dan pengekspor furnitur,” jelas wanita yang memulai usahanya sejak 1997 ini.
Untuk membuka dan memperluas jaringan, ia menyewa lobi hotel sebagai tempat pameran produknya yang juga disertai demo membatik produk. Lobi hotel yang disewa berpindah-pindah, mulai Somerset, Mercure, Garden Palace hingga Novotel.

“Hasil penjualan lumayan. Tamu-tamu hotel banyak yang suka. Terutama turis asing akhirnya semakin banyak yang order,” ujar Anita.
Produk Kusuma Art beragam, mulai mangkuk kecil hiasan, mangkuk buah, gantungan kunci, patung pajangan, piring, kotak perhiasan, ragam bentuk hewan dan ragam bentuk buah. Semuanya full motif batik.

Seminggu, ia bersama 50 karyawan outsourching-nya bisa menghasilkan 350 unit barang. “Dulu modal awalnya cuma Rp 500.000, balik modalnya sangat cepat tidak sampai setahun. Penggarapannya memang njlimet, tapi kalau sudah terbiasa membatik ya cepat,” pungkasnya.

0 komentar:

Poskan Komentar