Selasa, 10 Agustus 2010

Meraup Rupiah dari Sapuan Kuas

Lukisan tidak hanya merupakan produk seni rupa yang bernilai estetika, yang cuma bisa dinikmati. Melalui beragam media lukis, mulai kertas tulis, kertas film, kanvas, aneka jenis kain, baju, kebaya, mukena, tas, sepatu, patung, kaca, tembok, hingga bulu burung, hasil karya lukis ini mampu bernilai ekonomi tinggi. Mendatangkan rupiah dalam sekejap.

Seorang ibu bersama putrinya yang menginjak remaja terlihat tengah membolak-balik beberapa kaos lukis. Ny Merry, warga Sidoarjo ini sengaja datang ke sebuah workshop pelukis baju di Surabaya, untuk mengoleksi kaos lukis.
“Kami ingin tampil beda dengan lainnya, tapi tetap menonjolkan kekompakan antara ibu dan anak. Saya rasa kaos lukis ini cukup pas, meski gambarnya beda,” ujar wanita 42 tahun ini.
Ia memang salah satu keluarga penyuka seni. Selain kaos lukis, keluarga ini juga banyak mengoleksi karya-karya lukis yang diwujudkan ke media yang bukan saja kanvas, namun juga barang yang bisa dipakai sehari-hari, seperti sepatu, topi, bahkan alas mouse.“Saya suka berburu barang seperti itu, selain unik, tentu eksklusif. Karena bisa jadi gambar seperti ini hanya ada satu-satunya. Untungnya sekarang banyak outlet yang menjual,” tandas Ny Merry.
Produk yang mengeksplorasi karya lukis ke media nonkanvas dalam beberapa tahun terakhir memang booming. Kaos lukis karya Ovy Noviaridian misalnya, hasilnya telah banyak dikenal konsumen hingga luar pulau.
Ovy sengaja mewujudkan keinginan mereka yang tak mau tampil hanya dengan mengandalkan desain asli produknya. “Tak hanya baju santai, baju resmi hingga busana muslim pun sering menjadi sasaran goresan cat lukis. Kami cukup senang ketika melihat pemesan puas,” ujar Ovy, Kamis (8/4).
Bagi sejumlah seniman lukis, melukis tidak harus di atas kanvas dibalut bingkai persegi. Media apapun jadi indah dengan sentuhan seni lukis. Bagi Agus Setiawan, melukis di atas sepatu, tas dan topi ternyata bisa mendatangkan keuntungan yang kini bisa menjadi sandaran hidup.
“Awalnya, saya pelukis jalanan. Sekitar 1,5 tahun lalu, teman saya Dwi Wijayanto mengajak bergabung dan mendirikan outlet khusus produk seni lukis dengan media sepatu, topi, dan tas,” ujar Agus, Kamis (8/4).
Gayung bersambut, mereka berdua lalu membuka toko online yang menawarkan aneka sepatu, tas, topi, kaos, celana serba lukis. Publikasinya gabung di toko-toko online, bikin website khusus hingga bikin akun KakiKu Painting di facebook. Jenis lukisannya beragam, pembeli bisa order sesuai selera.
“Bisa lukisan wajah artis, batik, bunga dan aneka hiasan lain. Harga jualnya pun bervariasi tergantung tingkat kesulitan gambar yang dilukis dan jenis bahan yang diinginkan,” katanya.
Untuk bahan baku sepatu dan tas polos, biasanya order langsung dari Bandung. “Kita belinya juga melalui online. Per pasang sepatu polos harganya sampai Rp 80.000, itu belum termasuk ongkos kirim,” lanjut Agus. Tak heran harga jual ke pasar antara Rp 130.000-50.000 tergantung tingkat kesulitannya.
Diakuinya, ide melukis semacam ini berawal dari Dwi yang jalan-jalan ke Bandung. Bandung memiliki gudang seniman kreatif. Apapun bisa bernilai uang. Ide inilah yang kemudian dikembangkan mereka berdua.
Hasilnya? “Omzet per bulan cukuplah kalau buat hidup di Surabaya,” ucap arek Suroboyo jebolan Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Jurusan Seni Rupa ini.
Modal awal disetor dari Dwi Wijayanto sebesar Rp 15 juta. Hasil jualan melalui online responsnya cukup bagus hingga akhirnya mereka sepakat membuka gerai outlet di Royal Plaza lantai UG dengan nama S-One. Kini, setiap bulan kalau pas ramai bisa melukis sekitar 65-100 pasang sepatu, tas dan topi. Kalau pas sepi cuma 30-35 pasang. ”Kebanyakan ordernya memang sepatu,” lanjut Dwi yang juga bekerja di salah satu perusahaan rokok ini.
“Kalau yang melukis keahlian Agus, saya bagian pemasaran dan memesan sepatu,” ucapnya. Cat yang dipakai jenis akrilik di atas sepatu atau tas berbahan kanvas atau katun tebal. Akrilik gampang lekat dan tidak luntur jika kena air.

Sandaran Hidup
Lain lagi dengan pelukis berbahan fiber Abdul Hamid. Melukis saat ini sudah menjadi sandaran hidup. “Dulu awalnya melukis cuma terima order untuk bikin lafadz Ayat Kursi, surat-surat Al Quran, serta masjid dan Kabah dari bahan fiber,” ujar pria yang membuka outlet di kawasan Gedangan ini.
Lukisan fiber ini merupakan lukisan timbul berbahan resin-fiber. Lukisannya mirip pahatan yang dibingkai. Lazimnya, perupa membuat cetakan berbahan dasar tanah liat. Setelah cetakan jadi, maka bagian luarnya dilapisi bahan sesuai selera, bisa berwarna perak atau emas.
Order lukisan fiber lafadz ternyata laku keras, ia pun mengembangkannya menjadi berbagai model. Ada cetakan patung ganesha, candi hingga pemandangan alam. “Kebanyakan yang order justru turis-turis di Bali. Saya menaruh beberapa contoh lukisan fiber di salah satu galeri seni di Bali. Dari situlah order ke manca negara terus mengalir,” kisah Hamid.

Biasanya, kebanyakan pembeli mengorder sendiri jenis lukisan apa yang akan dibuat dari bahan fiber. “Saya terima order bentuk fiber apa saja,” ucapnya. Pernah bahan fiber itu diganti bahan semen. Tujuannya agar kuat, tapi malah mudah retak dan pecah. Partikelnya terlalu padat.

“Harganya bervariasi, mulai Rp 400.000 hingga jutaan rupiah tergantung ukuran besar dan tingkat kesulitannya,” imbuh Hamid, yang dalam sebulan bisa menerima oder minimal 100 unit.

Tidak hanya dipasarkan Bali, karya Hamid juga dipasarkan di Kalimantan dan Sumatera seperti Balikpapan dan Tarakan, serta Batam. “Saya tidak ekspor langsung ke manca negara karena biayanya pasti besar sekali. Tapi saya terima order dari para turis, dari merekalah lukisan fiber saya berkeliling dunia,” jelasnya.

Modal awal yang dipakai dulu murni modal milik sendiri. “Sekitar lima tahun lalu, saya lupa persisnya yang jelas tidak pinjam bank karena syarat pinjam uang ke bank cukup rumit. Usahanya harus minimal dua tahun, sedangkan saya baru mulai menjalankan,” pungkas Hamid.

0 komentar:

Poskan Komentar