Rabu, 04 Agustus 2010

Dan Peti pun Naik Kelas

Jangan anggap sepele furnitur warisan nenek. Lemari dan bufet berbodi lebar dari bahan kayu jati, dengan ukiran yang begitu kompleks, tentu sangat berharga untuk disimpan di gudang. Bahkan, jika itu hanya sebuah peti dengan empat kaki penyangga, dipenuhi dengan laci-laci, dan minus polesan sama sekali.

Saatnya Anda menaikkan status benda-benda kuno ini. Tren vintage masih tetap digemari. Bahkan, tidak ada kata tabu memadukan furnitur usang tempo dulu ini bersanding dengan benda-benda modern. Justru, aura baru bisa menjadi pencerah di rumah Anda.

Kali ini, cobalah bereksperimen dengan peti yang dulunya biasa dimanfaatkan nenek untuk menyimpan benda-benda sarat memori. Atau, untuk menyimpan ragam pernik yang sudah tak digunakan lagi.

Coba amati dengan teliti, ternyata begitu beragam bentuk peti yang sempat dikoleksi nenek buyut ini. Dari sebuah peti sederhana dengan satu pintu bukaan persis di bagian atas dan tanpa polesan ataupun hiasan ukiran sama sekali.

Ada juga, peti yang sekaligus difungsikan sebagai meja kopi. Peti seperti ini biasanya dilengkapi dengan sejumlah laci dan bagasi penyimpan, mulai dari atas hingga dasar peti.

Gaya lain peti jenis ini adalah sebuah meja kopi di bagian atas, beberapa laci di lantai kedua, dan sebuah dasaran terbuka persis di bagian bawahnya.

Jika Anda memiliki salah satu di antaranya, dan kondisi peti masih memenuhi syarat, tidak ada salahnya memanfaatkannya sebagai meja tamu di ruang utama.

Hanya dengan sedikit sentuhan, apakah mengimbuhkan vas bunga di atasnya, keberadaan peti ini bisa menjadi vocal point di ruang tamu. Bahkan sebuah alas meja, tidak dibutuhkan di sini, karena kekuatan peti sudah berhasil menyita pandangan.

Keberadaan peti ketika bersanding dengan sofa modern pun tidak menyurutkan pamornya sama sekali. Bahkan, semakin menempatkannya sebagai benda yang sangat berharga keberadaannya. Bahkan, jika ada di bagian peti yang sedikit terkoyak dan mempertontonkan serat kayunya, nilai uzur peti kian mahsyur.

Selain bisa disuguhkan sebagai meja kopi, pada laci dan bagasinya bisa menampung beragam pernik yang biasa difungsikan sehari-hari. Apakah itu remote control televisi atau DVD, charger telepon seluler, hingga kaleng-kaleng permen dan jajanan ringan. Sementara di bagian dasar yang terbuka, bisa menampung majalah, koran, buku-buku bacaan, hingga papan permainan catur.

Agar keberadaan peti kuno ini semakin mencuatkan gaya vintage yang masih dianut hingga saat ini, tidak ada salahnya menganut pakem senada untuk menguatkannya. Misalnya dengan menempatkan elemen-elemen interior masih senyawa.

Dan hal tersebut bisa disumbang lewat pemilihan karpet untuk lantai, atau sarung untuk bantal kursi, lukisan di dinding hingga pernik interior lainnya, semisal menempatkan wadah lilin di atas meja.

“Anda tidak akan pernah menyangka jika sentuhan gaya vintage bukan saja memberikan suasana yang nyaman, namun sekaligus bonus gaya dan kualitas pada sebuah ruangan,” ujar Pottery Barn, desainer sohor dunia yang memberi sentuhan berkualitas pada Kota Manhattan di Amerika Serikat, medio 1949.

Barn, terkenal dengan gagasan yang memadukan konsep kenyamanan, gaya, sekaligus kualitas. Tiga hal yang jika dipadukan dengan benar, menurutnya akan melahirkan sebuah keajaiban dalam sebuah hunian.

Sebuah keajaiban yang diciptakan dari benda-benda mati yang justru mampu memberi kehidupan pada hidup manusia. Pilihan warna yang tepat pada benda, menempatkan dan memadukan benda dengan tepat, satu sama lainnya, menambahkan benda fungsional lainnya untuk melengkapi fungsi benda lainnya, hingga menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.

0 komentar:

Poskan Komentar