Minggu, 08 Agustus 2010

Keberagaman Produk Industri Kreatif Di Jatim


Print E-mail
Beragamnya produk industri kreatif di Jawa Timur merupakan potensi yang dapat menggerakkan sektor riil, di tengah melambatnya perekonomian akibat dampak krisis global.Kegiatan produksi berbasiskan keahlian/ketrampilan serta didasari bakat dan kreatifitas individu itu tumbuh dan berkembang di lingkungan kondusif termasuk sentra yang difasilitasi pemerintah antara lain Dinas Koperasi & UMKM Jatim.Iklim lain yang menunjang keberlanjutan dan perkembangan industri kreatif adalah daya serap pasar.
Sebagian pelaku industri kreatif mampu mengakses pasar domestik maupun ekspor, dan terus menghasilkan produk baru yang inovatif. Sebagian masih dalam tahap merintis pasar, bahkan sebagian lainnya merupakan calon-calon wirausahawan yang akan masuk rimba belantara pasar.
Unik dan berkualitas
Satu contoh adalah Bhagaskara Bronze atau Bhagaskara Art Production pimpinan Supriyadi yang bergerak di bidang produksi patung logam di Trowulan, Kab. Mojokerto. Kapasitasnya 5.000 pieces/bulan dan diorientasikan ke pasar Eropa, AS maupun Asia.Bhagaskara merupakan penerima Siddhakarya Award Jawa Timur 2008 kategori perusahaan kecil, dan dicalonkan untuk mendapatkan Parammakarya (anugerah mutu dan produktifitas tingkat nasional yang diberikan Presiden).
Siddhakarya Award adalah penghargaan dari Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Jatim bagi perusahaan yang menghasilkan produk unik dan berkualitas memanfaatkan bahan baku lokal dan menerapkan manajemen 5R (ringkas, rapi, resik, rawat dan rajin). “Kami menggunakan logam rongsokan yang dicor, dan produk kerajinan patung ini digemari pembeli asing,” tutur Supriyadi, belum lama ini.
Kreatifitas pada industri kecil glass painting di Surabaya yakni Bejana Handicraft & Souvenir pimpinan Yuni Wijaya lain lagi. Usaha itu memanfaatkan bahan baku aneka barang dari kaca seperti stoples, botol, lampu minyak, asbak dan lainnya lagi yang dipercantik lukisan cat khusus. Produknya berupa barang pakai dan barang hias, dengan harga jual Rp10.000 – Rp550.000 per piece.
Kata Yuni, produksi dan pemasaran usaha glass painting itu dilakukan anggota keluarga. Selain memenuhi pesanan, dia juga membuka stan di sebuah mal di Surabaya.“Kami memperluas ragam produk untuk hadiah ultah, Hari Kasih Sayang/Valentine Day hingga hadiah Hari Natal,” paparnya.Industri berbasis kemahiran merajut juga bangkit lagi di Surabaya semisal yang dilakukan Nita Tjindarbumi dengan memproduksi aneka rajutan seperti baju, topi, taplak meja hingga sarung ponsel.
“Produk ini dikerjakan dengan tangan didasari ketrampilan, dimana untuk meningkatkan pasar kami selalu membuat desain baru,” ujar Nita, yang menekuni bidang rajut dengan bendera Mahirajut. Bahan bakunya aneka jenis benang dan produknya dipasarkan seharga Rp30.000 – Rp1 juta lebih per piece. Nita juga menyewa stan di sebuah mal.
Calon-calon pelaku industri kreatif juga mulai bermunculan di lingkungan kampus. Semisal para mahasiswa di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya amat berminat terjun di bidang bisnis multimedia.Hal itu diketahui dari pengajuan proposal rencana bisnis mahasiswa pada program wirausaha yang dilakukan Unair bekerja sama Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas).
Unair tahun ini ditetapkan salah satu dari 7 perguruan tinggi negeri (PTN) sebagai pusat kewirausahaan, dimana Depdiknas mengucurkan dana Rp2 miliar per PTN untuk modal mahasiswa.Wakil Ketua Program Pengembangan Kewirausahaan Unair, Elly Munadziroh, menyebutkan ada 33 proposal rencana bisnis/business plan layak dikucuri modal. ”Diantaranya kelompok mahasiswa asal Fak. Psikologi butuh modal Rp25 juta guna memulai usaha multimedia,” ujarnya.
Banyak kiat dan strategi harus dijalankan para pelaku industri kreatif agar mampu bersaing dan meningkatkan kapasitas produksinya.Menurut pakar bisnis, Rhenald Kasali, kalangan wirausahawan, terutama di bidang industri kreatif, harus cinta perubahan dan berani menghadapi kegagalan.“Produsen harus selalu berobah mengikuti perkembangan masyarakat agar usahanya tidak mati. Selain itu, para pelaku usaha mikro kecil harus memiliki kiat agar ‘naik kelas’ menjadi pengusaha menengah bahkan besar,” tuturnya dalam seminar bisnis di Surabaya, belum lama ini.

0 komentar:

Poskan Komentar