Rabu, 04 Agustus 2010

KISAH SUKSES "Tiga Pengusaha Muda Indonesia Sukses di Afsel"

JOHANNESBURG, (PRLM).- Pasar Afrika Selatan (Afsel) belum menjadi target para pengusaha Indonesia. Dalam beberapa tahun ini, hanya ada tiga pengusaha Indonesia yang eksis mengembangkan bisnisnya di Afrika Selatan. Mereka adalah Sariat Arifia dan Alex Alamsyah, keduanya berkantor di Johannesburg, serta Henriko di Pretoria.

Sariat Arifia selain pengusaha, juga Ketua Asosiasi Pencak Silat Afrika Selatan. Sariat dan Alex merupakan dua pengusaha yang masih muda. Sariat yang asal Betawi baru berusia 35 tahun, sedangkan Alex yang berasal dari Padang lebih muda lagi, baru 29 tahun.

Sariat mengatakan, dia baru mengembangkan bisnisnya sekitar lima tahun di Afrika Selatan. “Saya punya kenalan di Afrika Selatan dan mengajak berbisnis. Saya terima ajakan tersebut,” kata Sariat yang merupakan pengusaha pengapalan (shipping and forwarding) di bawah bendera PT Asanda Lautan Lima di Indonesia dan New South Africa Shipping di Afrika Selatan.

Diakui Sariat, pada tahun-tahun pertama, dia lebih banyak mengeluarkan uang. “Sebagai pebisnis baru dan juga target pasar yang baru, tentu saja banyak rintangan. Apalagi, birokrasi di Afrika Selatan sangat lambat. Namun, seriring berjalannya waktu, bisnis saya mulai berjalan lancar. Pengorbanan saya pada tahun-tahun pertama akhirnya terbayar,” kata Sariat yang sudah dua tahun ini bermukim di Afrika selatan beserta istrinya.

Bahkan, Sariat kini mulai merambah bisnis lainnya yaitu mendatangkan produk-produk dan makanan-makanan khas Indonesia seperti kerupuk, bumbu pecel, sambal terasi, hingga cendol. “Ada sekitar 70 item produk yang saya bawa dari Indonesia. Saya bercita-cita, satu saat nanti bisa memiliki toko khusus menjual produk-produk makanan Indonesia di Afrika Selatan. Produk Indonesia cukup digemari. Yang paling laku sekarang ini adalah bumbu rendang,” kata Sariat.

Sedangkan Alex, yang sebelumnya bekerja di Singapura, menjual mi instan dan rokok kretek. “Khusus untuk mi instan, produk ini sangat digemari di daerah-daerah kumuh seperti Hillbrow dan Alexandria. Kalau untuk menembus kalangan kulit putih belum bisa,” kata Alex, yang menambahkan dalam sebulan bisnis mi instannya menembus angka Rp 1,4 miliar.

Dalam sebulan, Alex mengatakan, dia mendatangkan sekitar 1.600 dus mi instan. “Harga satuan mi instan di sini sekitar 2,5 rand (sekitar Rp 3.250,00). Namun, penetrasinya masih ke kampung-kampung. Di daerah kumuh Hillbrow, dalam sebulan bisa terjual sampai 400 dus. Kalau mi memliki prospek yang bagus,” kata Alex, yang baru berjualan mi instan sekitar 1,5 tahun lalu.

Alex juga terjun dalam bisnis rokok kretek asal Indonesia. “Bisnis rokok sudah dimulai pada 2006, tetapi izinnya baru keluar pada 2007. Untuk usaha produk tembakau memang izinnya rada susah. Namun, kini semuanya sudah berjalan. Untuk rokok kretek dengan kualitas bagus, dalam sebulan saya baru bisa memasarkan seratus slop. Rokok kretek tidak dijual sembarangan, harus di tempat penjualan khusus, antara lain bareng dengan cerutu,” kata Alex lagi.

Seperti halnya Sariat, Alex juga mengakui, Afrika Selatan menjadi tantangan tersendiri. “Saya juga pernah bisnis lainnya seperti bir, tetapi gagal. Saingannya di sini terlalu banyak. Saya juga pernah menjadi korban penipuan, walau uang saya akhirnya bisa kembali,” ujar Alex, yang kini tengah mencoba untuk mendatangkan minuman teh dari Indonesia dan juga berbagai produk khas Indonesia lainnya seperti kecap dan terasi.

Menurut Alex, pada 2007 ada yang menelefonnya dan mengatakan butuh kopi. Alex kemudian minta dia mengirim uang dulu ke rekeningnya. Setelah uang masuk, dia kirimkan kopi tersebut. Namun, tiga hari kemudian, uang yang sudah ada di rekeningnya ditarik lagi.

“Saya juga heran mengapa uang yang sudah masuk rekening saya bisa ditarik lagi. Saya komplain ke bank. Walau prosesnya rada lama, uang saya tersebut akhirnya kembali,” kata Alex, yang juga berpartner dengan pengusaha lokal. Suka dan duka pernah dialami pengusaha Indonesia. Pada awalnya, kesulitan yang mereka hadapi. Namun, kini mereka sudah mulai memetik apa yang mereka tanam sebelumnya. (A-57/A-147)***

sumber :www.pikiran-rakyat.com

0 komentar:

Poskan Komentar