Selasa, 10 Agustus 2010

Ecodesign: Asri di Tengah Polusi (1)

Foto: Dokumen Parameter Architecture

Akhir-akhir ini, tren hunian bergeser pada konsep ecodesign, namun tak semua benar-benar menerapkannya. Padahal bila diterapkan benar, hunian eco-living banyak memberi manfaat baik pada lingkungan maupun penghuninya. Yuk, tengok konsep ecodesign berikut!

Dunia properti selalu berevolusi dari tren ke tren. Kalau dahulu kita banyak disuguhi konsep hunian minimalis, kini banyak pengembang menawarkan hunian berkonsep eco-living .

Apa sebenarnya hunian ecodesign itu?

Bila ditilik sekilas, tidak ada sesuatu yang nampak berbeda antara hunian ecodesign dengan hunian modern biasa. Ya, hunian ramah lingkungan ini hanya bisa dirasakan berbeda ketika sudah ditinggali.
“Pada dasarnya, prinsip ecodesign adalah suatu keberlanjutan dari ekosistem itu sendiri. Di mana elemen-elemen ekosistem seperti air, udara, manusia dan lainnya memberi manfaat pada penghuni!” papar Ir. Nirwono Joga, MLA , yang akrab disapa Yudi, penggiat arsitektur hijau yang juga koordinator Peta Hijau Jakarta .

Ruang Hijau Seimbang

Yudi pun menjelaskan, untuk memenuhi standar rumah berkonsep ecodesign , setidaknya harus memenuhi 5 syarat. Namun syarat yang utama, dihadirkannya ruang hijau dalam komposisi rumah. Untuk itu perlu diupayakan sebisa mungkin ruang yang terbangun menyediakan ruang hijau dengan komposisi yang seimbang. Idealnya, disediakan sekitar 30-40 persen ruang hijau yang tersebar. Misalnya, dipecah pada bagian depan, belakang dan tengah/ dalam rumah.

Semakin besar atau luas ruang hijau yang ada, tentu akan semakin baik.

Ruang hijau ini pun sebaiknya diletakkan secara merata pada denah rumah. Bila perlu, rencanakan dahulu ruang hijau ini, baru rancangan rumah diselesaikan dengan bangunannya secara keseluruhan.

Pentingnya Pohon

Pada ruang hijau ini sebaiknya ada pohon yang teduh, berbatang keras dan berdaun lebat seperti pohon mangga, rambutan, belimbing, atau kelengkeng. Pohon jenis ini lebih banyak memberi manfaat ketimbang pohon kecil, semak, rumput maupun palm .

Mengapa pohon? Karena pohon mampu menyerapkan air melalui akar-akarnya. Selain itu, pohon berdaun lebat mampu menyuplai oksigen lebih banyak dan memberi iklim mikro sekitar rumah menjadi lebih dingin.

“Kalau rumah yang kurang pohon, cenderung lebih panas suhu dalam ruangannya sehingga orang masih menggunakan AC (air conditioner ) lagi, itu kan tidak ramah lingkungan. Selain itu, kalau ada pohon yang teduh, orang tidak keberatan membuka jendela sehingga ada aliran udara yang sejuk dalam ruangan,” ungkap Yudi menjelaskan alasannya.

Untuk komposisi pohon dalam ruang-ruang hijau, menurut Yudi, tidak ada batasan penanaman pohon. Intinya, menyesuaikan fungsi dan komposisi rumah. Selain proporsional, pemilihan jenis tanaman sebaiknya juga disesuaikan dengan konsep rumah yang dianut.

Aliran Udara Tetap Lancar

Prinsip kedua rumah ecodesign , upayakan udara mengalir dalam ruang dengan baik. Rencanakan lubang-lubang ventilasi secara tepat pada ruang-ruang. Perhatikan pemosisian lubang-lubang ventilasi, misalnya, posisikan lubang ventilasi berseberangan dengan pintu, jendela, atau lubang ventilasi lainnya. Dengan demikian udara dapat mengalir lancar.
Akan lebih baik lagi bila sirkulasi udara ini memasukkan udara dari taman yang lebih kaya oksigen dan menyejukkan.

0 komentar:

Poskan Komentar