Selasa, 10 Agustus 2010

Menciptakan Inovasi Baru Bisnis Pakaian Usaha Kaos Lukis

Aktivitas melukis sudah ia geluti sejak anak-anak. Hobi ini ia lakukan baik dengan media kertas gambar ataupun kanvas. Setelah menghasilkan ratusan karya lukisan, baik yang laku terjual maupun yang jadi koleksi pribadi, Ovy Noviaridian ternyata masih `gatal`. `Rasa gatal` itu kini membuatnya masuk pada bidang bisnis baru.

“Saya orangnya `suka gatal` melihat sesuatu yang polos, seperti kaos, baju atau pelengkap busana lain. Oleh karena itu, saya coba-coba menggambar pada pakaian polos, sehingga memiliki corak,” kata Ovy yang memulai melukis pada media kaos dan kain sekitar tahun 2003.
Awalnya, coba-coba menggambar di kaos dan baju miliknya. Kemudian teman-temannya yang tahu tertarik, dan minta juga dilukiskan kaos, baju atau bahkan jilbabnya. Lama-kelamaan, Ovy pun dikenal pula sebagai pelukis kaos.

“Karena yang minta dilukiskan banyak, saya bilang `mesti bayar dong`. Ternyata, tidak ada yang keberatan,” kata Ovy.

Kini, setiap pekan Ovy bisa menerima order/pesanan lukis kaos, baju dan jenis-jenis lain pakaian sampai puluhan lembar (piece). Omzetnya bisa mencapai Rp 3 juta per bulan. Bukan nilai yang besar memang, namun kreasi yang ditelurkan Ovy jelas baru, dan inovatif. Karena itu, sebuah butik di Surabaya kini secara rutin memakai jasa Ovy untuk melukis pakaian yang dijualnya/
Menurut Ovy, melukis dengan media kain atau kaos sangat berbeda dengan melukis di atas kanvas atau kertas.

Ketika masih memulai dulu, ia tak langsung menggoreskan cat lukis ke lembaran-lembaran kain baru yang belum dijahit, namun ke baju atau kaos bekasnya yang sudah menumpuk dan tak terpakai lagi.
“Bahkan, sesungguhnya saya awalnya tak berpikir untuk melukis baju-baju bekas itu dengan gambar-gambar. Saya hanya berpikir bagaimana caranya menampilkan pakaian ini seperti baru dengan, misalnya, menyelipkan aksesori yang lebih menarik seperti ditambahi pernik-pernik bros, pita atau lainnya,” tuturnya.

Namun karena hobinya melukis, instingnya tiba-tiba seperti bergerak sendiri untuk melukis pakaian bekas itu daripada menambahinya dengan pernak-pernik aksesori. Lebih jauh, ia malah berpikir untuk melukis baju atau kaos baru, bukan yang bekas lagi.

“Eh… tatkala saya coba memberi gambar dengan motif bunga, ternyata hasilnya lumayan bagus, dan ada kesan unik. Menurut saya, selain punya nilai tambah pada baju yang dilukis, juga ada nilai seninya,” ujar Ovy.

Setelah dirasa bisa ‘ditampilkan’, Ovy pun berani menyulap baju atau kaos, bahkan celana jins yang dipakainya untuk dilukis. Ia juga membeli kaos dan baju polos lusinan untuk dilukis sebagai koleksi. Bahannya pun kian beragam, mulai katun hingga sifon yang diakuinya relatif sulit untuk digoresi cat karena mudah tembus.

Baginya, ada tantangan tersendiri bisa melukis di atas kain, karena lukisan yang ia buat tak boleh salah. “Kalau di kertas, begitu salah bisa langsung dibuang. Di kain tak bisa begitu, karena harga kain juga tidak murah,” ungkapnya.

Untuk melukis kain, wanita yang sering menggelar pameran lukis di beberapa kota ini lebih suka memilih obyek bunga. Mawar, melati, bunga sepatu, matahari dan anggrek adalah bunga-bunga yang sering menjadi obyek lukisannya, selain kupu-kupu, bahkan kadang wajah seseorang.

Sedangkan cat yang digunakan, ia mengaku biasa menggunakan acrylic atau cat poster.
Pesanan mulai mengalir dari beberapa temannya setelah melihat hasil karyanya yang tampak beda. Mereka mulai menyerahkan baju, kaos, busana muslim hingga jilbab atau kerudung untuk dilukis Ovy. Obyek gambar yang dilukis bisa datang dari pemesan sendiri, namun tak jarang diserahkan sepenuhnya ke Ovy.

“Banyak di antaranya yang meminta lukisan pada puluhan busana muslim untuk seragam pengajian. Yang rutin, saya menerima pesanan dari salah satu butik di Surabaya,” sebut ibu satu anak yang mengaku karyanya sudah dikenal hingga Jakarta, Kalimantan dan Sulawesi ini.

Uniknya, meski ia biasa menangani puluhan lembar (piece) kain lukis setiap pekan, namun Ovy selalu menanganinya sendiri tanpa bantuan seorang pekerja pun. Soal harga, Ovy mengaku tak mematok mahal. Harga hanya ditarik sebagai pengganti cat. Ia mencontohkan, untuk lukisan jilbab kaos hanya dikenakan Rp 5.000, sedangkan baju dibedakan untuk lukis depan sekitar Rp 50.000, depan dan belakang bisa dikenai Rp 75.000.

“Itu kalau bahan baju atau jilbabnya dari pemesan. Tapi kalau lukis kaos yang bahan kaosnya juga dari saya, harganya di kisaran Rp 40.000-45.000 per lembar,” sebut Ovy.

Meski hanya sekadar mengapresiasikan hobi ke media yang berbeda, namun Ovy masih memiliki obsesi bisa menggelar pameran tunggal atas produknya itu, selain juga memiliki butik tersendiri dengan karya-karyanya yang eksklusif.

0 komentar:

Poskan Komentar