Rabu, 04 Agustus 2010

Mainan Tempo Dulu Rezeki Masa Kini


Derasnya arus impor mainan anak asal China tak menyurutkan niat para pedagang mainan tradisional anak. Mereka optimistis pangsa pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yakin para orangtua masih banyak yang menyukai kategori mainan ini, meskipun anak-anak saat ini mulai akrab dengan mainan modern (impor).

“Mainan tradisional itu harus tetap dihidupkan sebagai varian permainan yang moderen. Ini karena tidak semua bahan mainan moderen bagus untuk anak-anak,” tutur Fitriana Anggraeni, warga Jemursari, salah satu penggemar mainan tradisional anak.

Menurutnya, kebanyakan mainan moderen terbuat dari bahan plastik dan karet. “Kalau usia anak kita di bawah dua tahun belum ngerti, jadi kalau mainan suka digigit-gigit malah bahaya. Mendingan cari mainan bahan kayu yang tidak banyak dilapisi cat. Itu lebih aman,” ujar ibu satu anak ini.

Ia mengenalkan putrinya yang kini berusia taman kanak-kanak dengan mainan dakon dan bongkar pasang balok kayu. “Mainan tradisional banyak ragamnya, tapi yang paling gampang penggunaannya ya dakon dan balok-balok kayu. Kalau bola bekel dan karet lompat tali butuh keterampilan khusus bagi anak usia segitu,” terangnya.

Sayangnya, dakon kayu saat ini mulai langka di toko-toko di perkotaan. Adanya dakon dari bahan plastik. “Kelemahan bahan kayu kalau tidak bagus merawatnya akan dimakan rayap dan rusak,’ lanjut wanita 37 tahun ini.

Perajin mainan anak, Juari mengungkapkan, penjualan ayunan kuda kayu ikut terimbas sejak gelombang impor mainan deras mengalir. Padahal, era 2000–2001 produk mainannya pernah jaya.
“Penjualnya jauh lebih sedikit dibandingkan pembeli. Order kita sampai kewalahan,” aku pria yang 10 tahun menekuni membuat mainan ayunan kuda kayu di kawasan Kusuma Bangsa Surabaya ini.

Tamatan SMP PGRI 1 Malang ini mengaku, keahliannya diturunkan dari bapaknya yang juga pernah menjadi buruh mainan ini. “Sekarang paling untung sehari ada 3-5 pembeli. Dulu bisa sampai puluhan,” lanjut pria 28 tahun ini.

Harga per unit Rp 70.000–75.000. “Kita beli bahan mentah kayu randu gundul yang sudah dibentuk jadi kuda dari Malang. Sekali kirim bisa 150 unit. Lalu kita dempul dan cat sendiri. Harga cat dan dempulnya (lem dan kalsium) ini terus naik,” jelas bapak dua anak ini.
Menurut Juari, pembeli mainan ini justru lebih banyak dari luar kota dan luar pulau. “Kalau orang Surabaya jarang, mungkin karena sudah banyak mainan moderen,” akunya.

Proses pembuatan ayunan kuda kayu sebetulnya tidak terlalu rumit. Bahan mentah siap proses berupa kayu gundul yang sudah dibentuk kuda dan bantalan ayunannya tinggal didempul dengan campuran lem dan kalsium.

“Dempul untuk menutupi serat kayu yang kasar. Setelah itu dijemur seharian, lalu digosok biar halus, kemudian dicat kayu dan diberi motif sesuai selera,” ujarnya. Dalam sehari, Juari bisa memproses 3-6 mainan.

Juari tidak bekerja sendiri, mantan juragan bapaknya yang memodali usahanya. “Modal awal katanya Pak Haji Totok sekitar Rp 7-8 juta. Sebetulnya, saya bisa buka sendiri, tapi buat apa karena omzetnya juga nggak tentu. Gerai mainan ini sudah menjadi image,” paparnya.

Dakon Kaya Ukiran
Lain lagi dengan perajin Madura, Edhy Setiawan SH, yang telah menekuni kerajinan dakon ukir sejak 30 tahun silam. Menurutnya, jenis ukiran Madura yang khas merupakan khazanah budaya tersendiri yang patut dipertahankan.

Dakon, produk mainan tempo dulu kreasinya memang banyak diminati. Ini karena berbeda dengan dakon pada umumnya, kreasi perajin ini lebih kaya ukiran dan pilihan warnanya lebih terang.
”Dakon sejak dulu tidak pernah booming, tetapi tergolong stabil, karena pemesannya cukup banyak di antara jenis karya ukir lainnya,” tandas Edhy, yang memiliki Artshop 17 Agustus, di Jl Jenderal Soedirman, Kepanjin, Sumenep.

Biasanya, bentuk ukiran dakon berupa kepala ular naga, tetapi ada juga yang berbentuk kepala bebek sebagaimana yang dibuat ahli ukir zaman dulu. Motifnya tidak berubah, cuma warna dan design ukiran yang sedikit dipercantik.
“Dakon sempat booming pada 1990-an, tetapi terus-menerus turun, bahkan sampai saat ini hanya bisa bertahan saja,” jelas Edhy, alumnus FH Unibraw Malang ini.

Bahan baku pembuatan karya ukir dakon dari pohon mimbo, dadap/cangkring, pohon nangka. Sehingga harganya relatif terjangkau dan sesuai kantong masyarakat. Karena bahan bakunya yang gampang didapat, harga mainan ini relatif bersahabat.

Untuk dakon harganya berkisar Rp 150.000 hingga Rp 250.000. Harga-harga itu disesuaikan dengan besar dan kecilnya bentuk dakon, rumit atau tidaknya bentuk ukiran yang menjadi hiasan.
Proses produksi ukir-ukiran dakon, awalnya dilalukan di koleganya di Desa Karduluk. Dari setengah jadi, kemudian penghalusan ukiran dan penambahan ornamen, serta pengecatan dikerjakan di Art Shop 17 Agustus.

”Untuk menghemat modal, kami hanya mempekerjakan 3-4 orang,” ujar peraih Upakarti untuk Jasa Pengabdian dalam Usaha Pengembangan Industri Kecil dan Kerajinan, tahun 1993 ini.
Sejak merintis sekitar 1980-an, usahanya sama sekali tidak pernah mendapat bantuan modal dari pemerintah baik pusat dan daerah. ”Pernah saya ditawari pinjaman modal, tetapi kami tolak mengingat volume pemesaran kurang banyak. Takut malah nambah rugi bukan untung,” tutur Edhy, yang berupaya terus mempertahankan usaha seni ukir khas Madura ini. ame/riv

0 komentar:

Poskan Komentar