Selasa, 10 Agustus 2010

Laba Cokelat Makin Melekat


Siapa yang tak suka cokelat? Panganan satu ini memang menjadi favorit semua orang, bukan hanya anak kecil atau remaja, tetapi juga orang dewasa. Legitnya pasar ini pula yang membuat banyak masyarakat tertarik menerjuni bisnis olahan cokelat dengan mengandalkan kreasi masing-masing.

Pasar cokelat tak pernah surut oleh masa. Lihat saja, setiap hari ada saja mereka yang meminati panganan ini. Tidak hanya dalam bentuk cokelat batangan, tetapi banyak diaplikasikan dalam beragam makanan mulai dari cake, biskuit, permen, ice cream, hingga minuman.

Selain rasanya yang enak, cokelat juga sering diasosiasikan dengan produk bernilai tinggi dan mahal, sehingga sering dijadikan sebagai hadiah atau souvenir berbagai acara. Mulai peringatan hari ulang tahun, pernikahan, Valentine’s day, momen Lebaran, Natal dan Tahun Baru.

Seperti pengakuan Nadia Handayani, karyawati salah satu perusahaan farmasi di Surabaya. Paling tidak setiap tahun ia selalu memesan kue cokelat untuk momen merayakan hari jadinya. Bahkan, tak jarang ia selalu memesan souvenir berbahan cokelat untuk teman-temannya.

“Apalagi saat ini model-model kue cokelat cukup beragam dan lebih menarik. Produsen cukup kreatif, baik bentuk, bahan, hingga rasa. Kita sebagai konsumen jadi banyak pilihan,” jelas lajang yang pada ulang tahun ke 25 tahun ini memesan kue coklat bergambar foto dirinya ke salah satu UKM di kawasan Rewwin, Waru, Sidoarjo.

Konsumen seperti Nadia ini pula yang menjadi pelanggan bidikan sejumlah pelaku usaha olahan cokelat. Umi Adhiyati, pengusaha kue cokelat TrulyChoco mengakui, selera konsumen terhadap cokelat selama ini berbeda-beda. Ada yang suka manis, namun ada pula yang tak suka manis. Ada yang suka rasa cokelatnya kental, tapi ada pula yang menyukai cokelat hanya sebagai pelengkap rasa.

“Perbedaan selera itu yang harus kita siasati. Bukan berarti kita harus membuat kue cokelat dengan memenuhi semua selera itu. Konsumen juga repot nantinya. Oleh karenanya kita harus membuat yang bisa disukai atau mengena ke semua konsumen,” kata Yati, panggilan akrabnya.

Ibu dua putra ini tahu betul karakter konsumennya. Maklum, ia telah menggeluti usaha olahan cokelat dan kue kering sejak lima tahun lalu. Awal mula ia tertarik terjun di usaha pembuatan kue dan cokelat sekadar coba-coba dengan konsumen hanya sebatas teman dan tetangga.

Karena masih coba-coba, Yati mengaku tak butuh modal banyak. Ia hanya memanfaatkan uang tabungan yang dimiliki. Namun ternyata, banyak yang suka dengan kue buatannya. Paduan bahan, ragam rasa dan bentuk, serta kreasi yang diciptakannya membuat konsumen terus bertambah. Dari situlah usahanya terus berkembang.

“Apalagi didukung pemasaran melalui media internet. Bahkan konsumen saya banyak yang datang dari luar Jatim, seperti Sumatera, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan, hingga Makassar,” ungkap wanita 34 tahun ini.

Kekuatan produk TrulyChoco adalah pada ragam bentuk cokelat praline, selain rasa. “Kami hanya menggunakan bahan yang berkualitas tanpa bahan campuran lain yang bisa merusak citarasa dan tekstur cokelat seperti glukose, mentega atau bahan lain dalam bahan dasar cokelat kami. Juga tanpa campuran whisky ataupun rhum, sehingga dijamin halal,” ulas istri Suluh Riawan ini.

Karena cukup berkembang, kini ia banyak mendapat tawaran sejumlah perbankan untuk dikucuri kredit agar usahanya terus berkembang. Namun, ia merasa masih belum memerlukan. Ia masih percaya dengan kemampuan dan keberlangsungan usahanya.

Dengan dibantu 5 orang tenaga kerja, rata-rata Yati mampu memproduksi 20-25 kilogram (kg) kue cokelat setiap harinya. Permintaan kebanyakan untuk souvenir pernikahan dan ulang tahun. Namun pada momen-momen tertentu, seperti Valentine atau jelang Lebaran seperti saat ini, jumlahnya bisa lebih dari 30 kg per hari. “Harga yang kami tawarkan rata-rata Rp 30.000 per kemasan ¼ kg, dan Rp 60.000 untuk ½ kg,” jelasnya.

Hanya saja, ia tak menjual produknya kepada konsumen langsung, melainkan memberi kesempatan kepada agen/reseller untuk berjualan. “Biasanya setiap kali pemesanan reseller minimal Rp 500.000,” ungkap Yati.

Pengusaha cokelat lainnya, Dodo Arief Dewanto, juga mengaku memiliki pelanggan yang loyal. Bersama sang istri, Meutia Ananda, warga Rungkut, Surabaya ini menciptakan kreasi yang unik dan berbeda. Misalnya, ia mengombinasi cokelat dalam beragam bentuk dan bermacam rasa, mulai vanilla, stroberi, tiramisu, hingga blackforest.

Ada juga panganan keripik singkong yang berbalut cokelat beragam rasa. “Tapi, konsumen banyak mengincar kurma yang dilapisi cokelat beragam rasa, di mana bijinya diganti mente atau kenari,” papar pria 35 tahun ini yang mendirikan ‘Chika Store’ sejak 2005 silam.

Terus berkreasi dilakukan karena pasar panganan coklat yang selalu meningkat. Agar lebih mengena ke lidah maupun selera konsumen, ia berupaya menyesuaikan rasa dan bentuknya sesuai dengan momen.
“Menjelang Lebaran seperti saat ini, akan lebih pas jika bentuknya dibuat unta. Atau jika ingin cokelat yang dalamnya kurma dan dikombinasi dengan isi yang unik, seperti mente, almond, atau kenari, kami membuatnya,” paparnya. Harga yang ditawarkan untuk kue-kue ini mulai Rp 10.000 sampai Rp 25.000 sesuai ukurannya.

Pada momen Lebaran ini, permintaan kue kering dan cokelatnya bisa melonjak hingga 3-4 kali lipat. “Pesanan terutama melalui internet, baik secara langsung maupun reseller. Kami tidak menitipkan di ritel modern mengingat harga dan jangka waktu yang tidak tahan lama,” tutur Dodo.
Selain cokelat, ia juga punya produk pilihan yang permintaannya bahkan jauh lebih besar, yakni kue kering berbentuk beragam buah dan sayur, seperti stroberi, pisang, wortel, anggur, tomat hingga terong. dio

0 komentar:

Poskan Komentar