Selasa, 15 Mei 2012

Bisnis Fashion Andalkan Ilmu "Entrepreneurship"



Ardistia Dwiasri, President & Creative Director Ardistia Design Works Inc., New York, mengenalkan label ready to wear Ardistia New York di 98 butik di lima benua.

Sejak usia 23, desainer Indonesia yang berdomisili di New York, Ardistia Dwiasri, memutuskan sekolah fashion di New York, Amerika Serikat. Saat masih sekolah, perempuan yang akrab disapa Disti ini mengasah ilmu dan pengalaman dengan magang dan menjadi freelance di berbagai label fashion ternama di Amerika. Kini, perempuan kelahiran Jakarta, 5 Juli 1979 ini memiliki dan mengelola label busana siap pakai yang diberinya nama Ardistia New York.

"Skill entrepreneurship sangat berperan dalam menjalani bisnis fashion. Saya menggabungkan ilmu yang saya baca mengenai industri fashion dan entreprenuership. Jiwa entrepreneurship sangat dibutuhkan dalam membangun bisnis fashion," jelas Disti kepada Kompas Female di Jakarta.

Kemampuan membaca pasar, riset mendalam sebelum memulai bisnis, rencana bisnis yang terukur, hanya beberapa bagian saja dari kewirausahaan yang dipraktekkan Disti. Baginya, ilmu dan keterampilan berwirausaha dibutuhkan desainer fashion dalam menggeluti industri mode, di dalam maupun di luar negeri.

Semangat mandiri dan kewirausahaan yang ditanamkan dalam diri berhasil mendorong Disti mengembangkan bisnis tak hanya di Amerika. Label busana siap pakai Ardistia New York berhasil memenuhi kebutuhan pasar di Eropa, Canada, Timur Tengah dan Asia Pasifik.

"Perancang busana juga perlu memiliki skill dalam manajemen, mengelola bisnis termasuk membangun jaringan dengan pemasok bahan baku. Kadangkala bagian ini tak diperhatikan desainer. Meski pun memang setiap desainer memiliki kekuatan masing-masing. Boleh jadi ia tak mahir dalam manajemen, dan menurutnya lebih baik jika ia menyerahkan manajemen bisnisnya kepada profesional," jelas Disti yang mengelola bisnis fashionnya sendiri dengan menawarkan koleksi rancangannya di 98 butik di lima benua.

Jeli melihat pasar
Disti memilih fokus merancang busana siap pakai untuk perempuan urban yang aktif. Kebutuhan busana siap pakai yang bisa padu padan, dengan karakter khas yang simpel, ringan, namun juga elegan ditangkap jelas oleh Disti. Alhasil, koleksi perdana yang dirilisnya pada 2007 laris di pasaran. Artinya, Disti jeli melihat kebutuhan pasar dan mampu menangkap potensi yang bisa dikembangkan. Dengan begitu, anak bungsu dari dua bersaudara ini mampu menembus selera fashion dunia.

Disti juga berkesempatan membuka gerai dalam pagelaran acara fashion yang diikuti label ternama di New York. Kerja keras dan semangat wirausaha Disti membuahkan hasil kini. Perempuan yang selalu menganalisa rinci setiap ide dan rencana bisnisnya ini sukses memenuhi permintaan pasar sesuai standar internasional.

Pentingnya manajamen bisnis
"Bisnis fashion harus mengikuti standar internasional. Konsistensi produksi harus dijaga dengan baik. Saat mengirimkan produk harus tepat waktu, tak bisa lebih cepat apalagi terlambat," jelasnya.

Kemampuan memenuhi permintaan, dengan kualitas produk yang terjaga, menjadi kunci sukses dalam berbisnis fashion di ranah internasional. Karenanya manajemen bisnis penting bagi Disti. Kemampuan mengelola sumber daya dan jaringan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari manajemen bisnis fashion.

Terbuka dengan inovasi namun realistisBisnis fashion juga harus realistis. Kain tradisional Indonesia memang punya potensi untuk dikembangkan. Namun bagi Disti, bisnis fashion tak bisa asal memanfaatkan momen untuk menjual produk. Perempuan penggemar yoga ini mengenali pelanggannya. Meski bukan mustahil baginya untuk berinovasi dengan kain tradisional misalnya, namun tak perlu dipaksakan jika memang pasar yang ditujunya tak membutuhkan.

"Nggak enak rasanya jika punya baju bagus namun nggak ada yang beli. Inovasi dan kesempatan selalu terbuka, tetapi kembali lagi, lihat lagi pasarnya," jelasnya sederhana.

Ia melanjutkan pasar internasional di industri fashion lebih matang. Tren kembali kepada masing-masing individu. Fashion lebih kepada gaya personal. Setiap orang bisa menciptakan tren sendiri. Karenanya, untuk menembus pasar internasional, desainer muda perlu memposisikan dirinya, jeli melihat pasar dan menangkap peluang, dan tentunya memiliki kemampuan mengelola bisnis yang baik dengan menyelami jiwa dan ilmu kewirausahaan yang nyatanya mendorong keberhasilan bisnis fashion.

0 komentar:

Poskan Komentar